Indonesian Stuttering Community: Pioneer Komunitas Gagap di Indonesia

Oleh: Herfah Oky Octavia & Putri Azizah Restu Bumi

Mungkin kamu tidak asing dengan orang-orang yang berbicara gagap di sekitarmu, atau mungkin kamu sering menjumpai ada beberapa orang yang tiba-tiba berbicara terbata-bata saat di depan umum. Apa tanggapan kamu? Apa kamu mem-bully-nya? Menenangkan mereka karena terlihat gugup? Tapi tahukah kamu, bahwa pengidap gagap akan merasa dilecehkan apabila kamu mengira bahwa mereka gagap karena rasa gugup?

Faktanya, terdapat lebih dari 70 juta pengidap gagap di dunia. Mayoritas di antara mereka memiliki kesulitan dalam beradaptasi dan berkomunikasi dengan orang lain. Mereka cenderung menjadi seseorang yang tertutup dan insecure dengan hambatan berbicara yang mereka miliki.

Berangkat dari keresahan ini, beberapa orang penderita gagap mencoba membuat sebuah komunitas kecil menggunakan Facebook yang diinisiasikan Dimas Tandayu, seseorang yang telah mendapatkan terapi dari seorang Speech Pathology di Australia. Melalui wadah ini, ia berbicara mengenai penyebab gagap dan juga berbagi keluh kesah dengan para anggota komunitas Facebook tersebut. Melihat antusiasme anggota grup Facebook tersebut, salah seorang anggota asal medan yaitu Budi Bayu(Bubay) berinisiatif membuat grup Whatsapp pada tanggal 19 April 2017. Perpindahan ini bertujuan untuk memudahkan anggota grup berbagi ilmu, pengalaman, dan bahasan yang lebih ilmiah.

Karena intensitas percakapan di Whatsapp meningkat, salah satu dari anggota berinisiatif untuk melakukan kopi darat atau bertemu langsung untuk pertama kalinya di Kebun Raya Bogor pada 13 Januari 2017. Dari pertemuan tersebut, para anggota yang berkumpul serta di grup setuju untuk menetapkan tanggal tersebut sebagai hari lahir NGO atau lembaga pertama dan terbesar yang bergerak untuk mengedukasi masyarakat mengenai isu gagap atau stuttering, yang kemudian dikenal sebagai Indonesia Stuttering Community (ISC).

Tak hanya berbagi cerita dan konten edukasi mengenai stuttering, ISC juga memiliki beberapa program unggulan yang menarik. Seperti gathering time yang menjadi ajang berkumpul teman-teman ISC untuk praktik dan latihan berbicara, bisa dalam bentuk bernyanyi hingga stand up comedy. Selain itu, juga ada seminar mini yang ditujukan untuk menjadi forum diskusi berbagai perspektif yang melibatkan teman-teman stutter dan juga non-stutterVideo call rutin dan #JumatDenganVoiceNote juga menjadi program unggulan untuk melatih kemampuan berbicara teman-teman ISC yang dilakukan setiap minggu.

Seiring berjalannya waktu, anggota ISC terus bertambah, hingga mencapai kurang lebih 1000 orang yang tergabung dalam 3 grup: Facebook, WhatsApp Grup, dan Telegram. Untuk terus menjangkau seluruh pengidap stutter di Indonesia, ISC berkolaborasi dengan berbagai pihak, salah satunya Menjadi Manusia. Ketua ISC, M. Dwiki Firmansyah berkesempatan untuk membagikan perspektifnya terhadap gangguan berbicara melalui segmen #BerbagiPerspektif yang ditayangkan melalui channel YouTube milik Menjadi Manusia. Perspektif Kak Dwiki juga ditayangkan untuk memperingati Hari Kesadaran Gagap Internasional, lho!

Keberadaan ISC diharapkan dapat membantu teman-teman pengidap stutter yang mengalami permasalahan dan tantangan dalam kehidupan sehari-hari, baik dari segi ekonomi, sosial, maupun psikologis. Selain itu, ISC juga bertujuan untuk mengedukasi masyarakat agar stigma negatif terhadap isu stutter dapat terminimalisir. Hal ini juga dilakukan untuk mewujudkan Indonesia yang inklusif dan ramah terhadap pengidap gagap.

Dari komunitas seperti ISC, kita dapat belajar bahwa ketidaksempurnaan dan kekurangan merupakan hal yang wajar. Semua itu tergantung pada bagaimana kita menerima diri kita sendiri. KIta harus bisa berdamai dengan kekurangan tersebut. Dengan begitu, kita dapat bangkit dan beradaptasi dengan segala keterbatasan yang kita miliki. Jangan lupa pula untuk saling menghargai kekurangan yang dimiliki orang lain, karena menghargai orang lain merupakan salah satu bentuk kamu “memanusiakan” manusia. Stuttering No More, Let Us Come To the Fore!

Sumber: dokumen ISC