How to Begin Loving Ourselves?

Oleh: Herfah Oky Octavia & Putri Azizah Restu Bumi

Love yourself first before loving somebody else. Sebagian dari teman-teman pembaca mungkin sudah sering menemukan quotes ini di buku, artikel, unggahan media sosial, atau bahkan ceramah pembicara terkenal. Mengapa mencintai diri sendiri, a.k.a self-love, akhir-akhir ini banyak dibicarakan orang, juga menjadi topik yang sepertinya sangat relevan untuk masyarakat?

Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, seringkali orang menjadi frustasi, dihadapkan dengan pilihan dan masalah yang semakin kompleks. Mencintai diri sendiri dengan paham dan tahu apa yang diinginkan akan sangat membantu untuk menghadapi situasi dan kondisi yang tidak bisa diprediksi. Selain itu, bagaimana kita bisa memberikan cinta kepada orang lain, sebelum kita bisa mencintai sesuatu yang paling dekat dengan kita, yaitu diri kita sendiri? Ibarat gelas kosong yang ingin memberikan air untuk gelas lainnya. Hanya dapat memberi udara hampa yang tak berarti.

Sebelum membahas lebih jauh tentang mencintai diri sendiri atau self-love, alangkah baiknya teman-teman pembaca untuk coba kenalan dulu nih dengan self-growing processSelf-growing process merupakan masa bertumbuh dan berkembangnya seseorang dari segi psikis. Masa-masa dimana manusia mencari jati dirinya hingga menemukan dan bisa mencintai pribadinya. Masa-masa dimana, pada akhirnya kita bisa mencintai lingkungan sekitar, dengan tak lupa juga untuk mencintai diri masing-masing.

Salah satu tahap dari self-growing process adalah self-loveSelf-love adalah masa dimana kita tidak lagi bergantung pada orang lain untuk membuat kita merasa cukup dicintai. Cinta dan kasih sayang yang didapatkan dari orang lain menjadi suatu kemewahan, bukan lagi menjadi kebutuhan, tetapi bonus. Ketika sudah berada pada tahap ini, seseorang akan bisa mencintai lingkungan sekitarnya, berusaha untuk terus memberikan dampak positif untuk orang lain. It is about the world, the environment, about collective consciousness, helping other people to love themselves.

Lalu, apa sih langkah-langkah awal yang bisa kita lakukan untuk memulai tahap self-love?

  1. Terima diri kita apa adanya

Langkah paling awal yang dapat kita lakukan untuk mencintai diri sendiri adalah menerima segala yang ada pada diri kita. Artinya, kita tidak boleh memberikan kritikan kepada diri kita sendiri, termasuk segala kekurangan dan kelebihan yang kita miliki. Cara lainnya yaitu menghentikan kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain. Dikutip dari Journal of Social and Clinical Psychology, bahwa membandingkan hidup Anda dengan orang lain di sosial media, menyebabkan perasaan depresi dan kesepian. Jadi cobalah untuk tidak menentang apa yang kita punya, dan sebaliknya. Yang kita perlukan hanya menghargai segala yang ada, serta menerima apapun dengan cukup.

2. Self-talks

Self-talks atau berbicara pada diri kita sendiri merupakan cara sederhana yang bisa kita lakukan. Kita dapat berbicara di dalam hati maupun diungkapkan secara lisan. Dengan membiasakan perilaku ini, lambat laun akan terjalin persahabatan. Manfaat lainnya yaitu kita dapat bebas menilai diri dengan objektif. Dengan begitu, kita dapat meningkatkan motivasi dan fokus. Contoh, kita dapat bertanya, “Apa tujuan saya melakukan ini? Apa saya merasakan kebahagiaan?”. Dengan membiasakan self-talks, kita dapat menyalurkan emosi secara bebas, seperti kesal, marah, atau mengeluh.

3. Mencari circle kehidupan yang positif

Bukankah jika kita dikelilingi oleh orang yang selalu tersenyum, kita pasti akan ikut tersenyum? Begitupun jika kita dikelilingi orang yang saling toleransi dengan perbedaan. Segala kebiasaan dan pola pikir akan tertular energi positif. Kita akan terdorong untuk menjadi orang yang memberi dukungan, kritikan yang membangun, dan menerima segala yang ada pada diri kita.

4. Menghindari masukan yang menjatuhkan

Menghindar disini bukan berarti tidak terima apabila dikritik. Kita hanya tidak boleh membiarkan orang lain menjatuhkan kepercayaan diri yang sudah dibangun. Caranya dengan mengurangi rasa penasaran terhadap penilaian orang lain. Dapat juga dengan menghindari standar kehidupan yang orang lain tetapkan. Dengan begitu, menutup kemungkinan orang lain memberi nasihat toxic, yang menjadi terbebani atau insecure.

5. Berhenti menaruh ekspektasi pada orang lain

Menaruh harapan kepada sesama manusia sangat besar resikonya. Bukan hanya berdampak pada kehilangan kepercayaan, tapi juga sakit hati yang begitu dalam. Apalagi jika kamu berani memprioritaskan seseorang, bukankah akan sangat menyakitkan jika tidak terbalas? Letakkanlah harapan untuk bahagia pada diri sendiri. Jadi, bila terjadi suatu kesalahan, akan lebih mudah meminta maaf dan memaafkannya. So, let’s keep expectation low.

Kita semua ingin merasa bahagia, tapi tidak semua orang bisa menyadari kebahagiaan yang telah datang. Tidak semua orang mau merasa cukup dan bersyukur. Bahkan masih banyak orang yang selalu mencemaskan hari esok dengan menyalahkan diri sendiri. Leo Buscaglia pernah berkata, “Kekhawatiran tidak dapat menghilangkan kesedihan hari esok. Hari ini hanya dapat menyedot kegembiraan hari esok. Dengan selalu menyalahkan diri sendiri, lama kelamaan menghilangkan kepercayaan, bahkan membuat benci, menjadikan kita akan beropini bahwa saya tidak pantas bahagia”. Tapi jika kita berusaha keras mencoba 5 langkah awal di atas, kita akan maju selangkah dalam tahap self-growing dan akan menjadi individu yang adil dengan diri kita sendiri. Semakin kita mencintai diri sendiri, maka akan timbul kebahagiaan yang memotivasi kita mencapai banyak hal dalam hidup. Yuk,sobat ISC, jangan lupa untuk terus mencintai diri sendiri ya!!

Sumber:

https://greatmind.id/article/pencarian-diri

https://m.fimela.com/editor-says-menghilangkan-kebiasaan-menaruh-harap-ke-orang-lain