Overconsumption: Musuh Bumi di Tengah Pandemi

Seperti yang kita ketahui, kehidupan masyarakat urban dalam kesehariannya tidak terlepas dari berbagai iklan produk dan kemudahan akses yang ada. Semua ditawarkan baik melalui media sosial ataupun melalui iklan pada papan reklame yang dapat dengan mudah diakses dalam keseharian masyarakat urban. Kecenderungan inilah yang membuat kehidupan masyarakat urban menjadi lebih konsumtif. Sifat konsumtif masyarakat urban terkhusus dalam belanja online diperparah dengan adanya situasi pandemi Covid-19. Sebagai pelaksanaan dari peraturan pemerintah, masyarakat harus mengubah gaya hidupnya dan melakukan segala macam aktivitas di rumah. Anjuran pemerintah kepada masyarakat untuk tidak keluar rumah apabila tidak mendesak pada akhirnya membuat masyarakat sering kali lebih memilih berbelanja online untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Menurut Manajer Kampanye YPBB, Melly Amalia, sampah dari sektor komersial seperti restoran dan pusat perbelanjaan memang berkurang tetapi terdapat peningkatan dari sampah rumah tangga. Ungkapan ini didukung dengan data yang menunjukkan tren kenaikan 27–36 persen pembelanjaan secara daring.

 

Penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). (Kumparan)

Sebenarnya banyak sekali faktor yang mempengaruhi seseorang mengkonsumsi produk secara berlebihan. Salah satu faktornya seperti di tengah pandemi semakin banyak waktu yang dihabiskan masyarakat untuk mengakses gadget, membuat masyarakat sering kali mengakses platform pembelanjaan online. Rutinitas ini cenderung mendorong masyarakat untuk berbelanja secara berlebihan tanpa memperhatikan kebutuhan yang sebenarnya, inilah yang biasa kita kenal dengan istilah overconsumption. Mungkin di antara kita pernah iseng-iseng melihat produk di berbagai platform pembelanjaan online seperti Shopee dan Tokopedia, adanya penawaran menarik seperti cashback akhirnya mendorong kita membeli sebuah barang. Padahal ketika dipikir-pikir sebenarnya kita tidak terlalu perlu barang tersebut dan perilaku ini kita lakukan secara berulang. Melalui peristiwa tersebut sebenarnya tanpa kita sadari kita telah terjebak pada perilaku overconsumption. Dengan demikian, mungkin kita merupakan salah satu orang yang berpengaruh terhadap pencapaian platform pembelanjaan online pada masa pandemi.

Tercatat Shopee meraih 560 juta transaksi selama masa pandemi dengan rata-rata 2,8 juta transaksi per hari. Peningkatan juga terjadi pada layanan pesan-antar makanan seperti Go-food yang mengalami peningkatan transaksi sebesar 20 persen selama masa pandemi. Namun, disamping punya dampak baik bagi peningkatan penjualan berbagai platform pembelanjaan online dan layanan pesan-antar makanan, nyatanya sifat overconsumption sudah sebaiknya dihindari di tengah pandemi ini.

Berdasarkan penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), diketahui bahwa 96 persen belanja online menggunakan kemasan plastik. Tentunya hal ini bukan merupakan kabar baik karena biasanya konsumen akan langsung membuang plastik dari kemasan produk pembelanjaan online mereka. Pada akhirnya membuat plastik tersebut menjadi plastik sekali pakai. Sifat plastik yang cenderung sulit terurai dan sering kali tidak terkelola dengan baik nantinya akan mencemari lingkungan kita. Apalagi sifat overconsumption cenderung membuat seseorang terdorong untuk melakukan pembelanjaan online secara berlebihan dan berulang. Hal ini tentunya akan sangat berdampak bagi lingkungan. Terbukti dari peningkatan jumlah sampah selama masa pandemi di berbagai kota. Misalnya menurut penelitian yang dilakukan oleh Institut Teknologi Surabaya (ITS), terdapat komposisi peningkatan sampah plastik sebesar 22,01 persen selama masa pandemi di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Benowo-Surabaya. Serupa halnya dengan yang terjadi di kota Depok, terdapat peningkatan jumlah sampah hingga 100 ton per hari selama masa pandemi berdasarkan ungkapan Ketua Peneliti Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia, Eva Andayani. Berdasarkan dampak yang dapat kita lihat dari perilaku overconsumption terhadap lingkungan, sudah sebaiknya kita memikirkan solusi terbaik untuk dapat menyelesaikan permasalahan ini.

Cara paling efektif untuk dapat mengurangi penumpukan sampah di tengah pandemi adalah dengan menghindari perilaku overconsumption itu sendiri. Sebagai langkah awal kita bisa mulai dengan mengubah pola pikir kita sebelum membeli sebuah produk dengan bertanya kepada diri sendiri apakah kita benar-benar memerlukan produk tersebut atau hanya sekedar ingin saja. Apabila terpaksa harus berbelanja online untuk memenuhi kebutuhan, kita dapat menjalankan konsep less plastic packaging dan menghindari pemakaian kemasan sekali pakai. Cara tersebut dapat kita lakukan dengan meminta kepada supplier untuk mengemas produk menggunakan box corrugated, koran, atau kertas tetapi apabila kita tetap menerima plastik yang terpenting adalah jangan langsung membuangnya karena plastik tersebut bisa kita bersihkan dan simpan untuk digunakan di masa mendatang. Akan tetapi, kita juga dapat mencuci, memilah, dan mengirim plastik tersebut ke bank sampah apabila kita tidak ingin menyimpan terlalu banyak plastik di rumah. Bahkan, dengan mengirim sampah ke bank sampah kita bisa mendapat keuntungan berupa uang dan sampah tersebut nantinya dapat didaur ulang. Para supplier pun sudah seharusnya turut mendukung upaya pengurangan sampah terutama plastik sekali pakai, misalnya dengan menggunakan kemasan packaging berbahan biodegradable yang akan lebih mudah terurai di lingkungan. Namun, apabila terlalu mahal supplier dapat memberikan tips daur ulang kemasan dan menggunakan kemasan yang fungsional agar konsumen dapat memakai kembali kemasan tersebut. Oleh karena itu, selagi masih di rumah saja kita sebaiknya mengurangi pengeluaran yang tidak penting di tengah pandemi ini, hitung-hitung sekalian membantu selamatkan lingkungan dari sampah. Oh iya, kalau memang terpaksa berbelanja usahakan bungkusnya pakai bungkus seperti di bawah ini ya!