Sentilan Tuhan

Ceritanya saya disuruh sharing sama kakak admin, tapi bingung mau nulis apa #mikir

Kemarin sabtu, saya pergi menjemput adik-adik yang tinggal di sisi seberang rel, sepanjang tembok (menuju Pasar Gaplok). Siang itu panas banget dan gak banyak ketemu adik, karena beberapa adik ikut kegiatan yang diadakan komunitas lain di daerah Tanah Tinggi. Sudah hampir ujung tembok cuma bertemu 2 adik.

Kalau tidak salah,  ada dua orang adik yang sudah 3 kali datang setiap hari Sabtu, jadi termasuk adik baru. Salah satu adik, sedang bermain boneka ketika saya datang jemput. Dia langsung mengiyakan untuk ikut sambil membereskan mainannya. Dia meminta untuk tunggu sebentar karena mau izin ke ayahnya.

Selama perjalanan saya mulai pembicaraan dengan si adik. Ternyata dia kelas 2 Sekolah Dasar (SD) tapi belum lancar membaca dan berhitung. Dia bercerita bahwa, dia rajin membantu ayahnya mengumpulkan dan membersihkan sampah gelas botol plastik bekas. Selain itu, dia juga rajin mencuci pakaian dia sendiri dan ayahnya.

Si adik bercerita, kalau malam ayahnya sering mengajarkan membaca dan berhitung. Saya pun tergerak untuk tanya hal lebih dalam lagi tentang keluarganya. Dimana ibunya, berapa saudara kandungnya dan keadaannya.

Dengan lugu dia bercerita bahwa ibunya sudah meninggal waktu dia masih kecil karena penyakit kanker payudara. Sang adik berkata payudara sebelah kanan ibunya bengkak saat meninggal. Tangan kanan ibunya patah ketika tangan kanan dan kiri harus disatukan dalam prosesi pemakaman (fiuuuhhh saya gak berani tanya lebih detil lagi).

Lanjut, saya tanyakan tentang saudara kandungnya. Si adik punya 2 kakak perempuan dan 1 kakak laki-laki. Menurut ceritanya, semua saudara kandungnya sudah berkeluarga dan tinggal di kampung. Jadi, dia hanya tinggal dengan ayahnya. Si adik bercerita bahwa lebaran nanti dia akan pulang kampung bersama sang ayah.

Yang sempat saya nasehatkan ke adik tersebut adalah tetap rajin belajar, boleh bermain dan membantu ayah. Kalau dilihat, wajah si adik ini lugu dan baik sekali (semua anak-anak juga begitu), tidak terlihat kalau beban hidupnya berat. Si adik pasti kesepian dan kehilangan sosok ibu #huhuhuhuhu.

Setelah bertemu si adik, saya mulai berpikir pasti diluar sana masih banyak adik-adik yang mengalami hal yang sama bahkan lebih berat lagi. Dari sekian banyak adik, kenapa cerita adik ini yang kena banget ke saya. Waaah!!! Tuhan pasti punya maksud nih.

Buat saya, ini semacam sentilan Tuhan bahwa saya harus selalu bersyukur masih punya keluarga yang utuh, sehat dan berkecukupan. Karena saya tidak pernah pesan untuk dilahirkan dan saya tidak bisa memilih lahir di dalam keluarga/orang tua seperti apa.

Saya bisa saja lahir dari keluarga seperti si adik dan sebaliknya. Apa yang saya miliki saat ini, waktu, tenaga dan materi cuma titipan dari Tuhan yang harus saya teruskan lagi pada yang berhak.

 

“Dik, makasih ya sudah mau bercerita ke kakak , Hug and Kiss”

-MP-