Mereka Membutuhkan Kita Karena Kita Membutuhkan Mereka

Hampir setahun sudah, aku bergabung dengan Rumah Belajar Senen. Pondok kecil yang setiap jam belajar tak pernah luput dari alunan derau mesin kereta api yang melintas. Entah dari, menuju atau sekedar lewat Stasiun Pasar Senen. Rumah mungil sewaan ini menjadi tempat menuntut ilmu pokok (baca, tulis, berhitung), ilmu tambahan (pelajaran sekolah), dan tentunya pendidikan budi pekerti bagi anak-anak disana. Anak-anak yang memang tinggal sebagai bagian dari masyarakat sepanjang jalan dahlia.

Setiap hari Sabtu, riuh semangat mereka akan terdengar semenjak selesai adzan Dzuhur hingga usai sholat Ashar. Ramai memang. Bagaimana tidak? 60 anak lebih selalu datang. Mulai dari usia TK hingga SMP. Beberapa ibu-ibu menunggu anaknya, sambil saling bercakap ria di depan rumah. Ditambah dengan kakak-kakak yang selalu siap berbagi ilmu dan sigap untuk mengatur jalannya kegiatan belajar mengajar.

Aku bahagia menjadi bagian dari Rumah Belajar Senen. Meskipun, sejujurnya, ku tak pernah memilih untuk menjadi bagian dari tempat belajar ini. Aku mengenal Rumah Belajar Senen dari event Jambore Sahabat Anak 2017. Pada saat itu, secara acak, setiap yang diterima menjadi relawan, disebar ke seluruh rumah belajar di area Jabodetabek. Dan disinilah aku berakhir. Aku tak pernah menyesal berada disini, sebaliknya, aku bersyukur sekali bisa mengenal mereka, anak-anak yang hebat, dan mereka, kakak-kakak tangguh RBS. Terkadang memang bukan kita yg memilih suatu manfaat, tapi Tuhan langsung lah, Yang Maha Pemberi segala sesuatu dengan terbaik, yang memilihkan.

Alasanku mengambil judul “Mereka Membutuhkan Kita Karena Kita Membutuhkan Mereka” ialah keinginan untuk melihat kegiatan seperti ini dari sudut pandang lain. Secara kasat mata, orang akan menganggap bahwa mereka, anak-anak itu, membutuhkan kita. Tapi, apa iya? Atas dasar apa kita berpikir seperti itu? Kelayakan pendidikan mereka? Kesehatan mereka? Kesejahteraan mereka? Bukankah itu semua hanya asumsi dan opini diri pribadi?

Pada dasarnya, sadar atau tidak, kita berpikir demikian karena kita selalu mengukur ideal kebahagiaan seseorang ya dari pendidikan, kesehatan, kecukupan materi, dan sebagainya yang merupakan versi kita. Padahal, mungkin sebelum para relawan atau orang-orang seperti kita datang dan bertemu mereka, mereka sudah bahagia atas definisi mereka sendiri. Bukti bahwa sebenarnya kita yang memerlukan mereka ialah setiap kali ada pertanyaan tentang alasan keikutsertaan relawan di aktivitas sosial, kebanyakan akan menjawab, “Mencoba mengisi waktu dengan kegiatan bermanfaat”, “Mengisi hati yang terasa kosong”, “Mau dapat kebaikan dan pahala melalui berbagi” dan sebagainya.

Lalu, apakah salah? Bukan. Aku bukan mau menyalahkan apapun atau siapapun. Aku hanya ingin mengingatkan kita, sebagai penggerak sosial, bahwasannya semua hal ini kitalah yang memulai, dari hati dan pikiran kita sendiri.

Aku hanya ingin mengingatkan kepada tubuh-tubuh yang mulai lelah ini, bahwa kitalah yang pertama datang ke mereka, dan sekarang lihatlah, perbedaan yang nampak. Aku hanya ingin mengingatkan pada kepala-kepala yang kian pusing ini, bahwa engkaulah yang punya gagasan di awal, dan sekarang lihatlah, raut ceria yang kian merona.

Dan, aku hanya ingin mengingatkan hati ini, bahwa hendaknya ia bersyukur, bukan terus mengeluh karena kegagalan-kegagalan dari ekspektasi program yang tak tercapai. Bersyukur, Tuhan telah mempertemukan kita dengan mereka, Tuhan telah menjawab alasan-alasan ‘konyol’ kita, dan Dia telah memenuhi kebutuhan hati kita.

 

Aku sendiri tak sempurna. Tak jarang aku merasa lelah dan kecewa. Bukan terhadap mereka, tapi diri sendiri. Jauh di dasar memori ini, tertanam pengalaman-pengalaman tak terlupakan itu. Dan kan kuceritakan dua diantaranya.

Pertama, aku akhirnya menyentuh ketakutan dan keraguan yang mengekangku selama ini, yaitu berkeliling untuk mengajak adik-adik datang ke RBS. Jujur saja, aku tak selalu pandai dalam berkomunikasi dengan orang baru, apalagi orangtua. Aku sering membayangkan jika ada salah satu anak tidak diijinkan, bagaimana ku harus membujuk keluarga mereka sebab aku bukanlah siapa-siapa bagi mereka.

Namun, kenyataanya, imajinasiku itu tidak sepenuhnya benar. Malahan, dari menarik dan menjemput adik-adik, aku jadi lebih paham tentang kehidupan mereka, tentang kerasnya hidup yang mereka lalui, dan kurang tepatnya lingkungan masyarakat disana untuk mendukung pendidikan yang baik bagi mereka.

Pengalamanku yang kedua ini, aku rasa bukan hanya aku yang merasakan. Hampir atau mungkin semua kakak RBS atau bahkan relawan-relawan di luar sana juga pernah mengalami, yaitu betapa sulitnya mengajar dan mendidik anak-anak itu. Tak cukup sekali, dua kali, tiga kali, bahkan hingga lebih, kita mengulang-ulang materi yang sama agar bisa dimengerti.

Atau kita sudah mencoba membuat materi pelajaran dengan baik, tapi tetap saja belum bisa mudah dipahami adik-adik. Ditambah lagi harus, satu dua anak susah fokus, mengganggu teman, yang akhirnya menimbulkan kegaduhan.

 

Hal lain adalah rasa ketidaksabaran, letih, dan perasaan gagal yang kerapa muncul. Ketika hati kian menciut, terlebih tak tahu harus berbuat apa, aku mencoba menengok ke belakang. Kubuka kembali tentang alasan liar ku di awal-awal merambah lingkaran kegiatan seperti ini. Kemudian, kutengok ke depan. Kulihat mimpi2 yang telah kutorehkan di kertas-kertas yang menggantung di tembok, semua terkait hal ini. Dan akhirnya, ku hanya tersenyum, dan siap mencoba lagi.

Dengan begini, aku berharap, aku kan terus bersabar, berusaha, dan tetap bersemangat dalam merangkul orang-orang atau anak-anak yang kini membutuhkanku. Karena menjadi bagian dari mereka merupakan salah satu cara untuk melunasi hutang hidup atas segala kelebihan yang telah Tuhan titipkan kepadaku.

Tambahan sedikit untuk catatan ini, yaitu mengenai satu hal paling menggores di pikiranku semenjak menjeburkan diri di ranah sosial dan pendidikan. Kini, tiap kali ku melihat anak-anak, satu hal terlintas di kepala ini

“Apakah mereka sekolah?"

"Bagaimana proses belajar mereka?"

"Bagaimana pendidikan mereka?"

"Ajaran seperti apa yang mereka dapat dari orangtua ?”

I don’t understand myself. How could this thought come over me? But, it has been a wonderful feeling growing inside meMemang, bukanlah di Rumah Belajar Senen, rasa itu tumbuh untuk pertama kali.

Namun, satu hal yang kusadari, disini aku memperoleh salah satu pupuk terkuat yang akan menjaga dan merawatnya untuk terus berkembang menjadi suatu hal besar kelak. Di dalam dekapan angan-angan dan cita-citaku. Di masa depanku.

 

-FKM-

SHARE THIS: