Salam Cinta

Perkenalkan saya Nosen Karol, seorang Seniman asal Jakarta. Awalnya, saya tertarik menjadi relawan Rumah Belajar Senen (RBS) karena cerita dari kakak saya ketika ia menjadi relawan RBS. Saya menjadi kakak relawan di RBS sejak 2008 sampai dengan 2016 atau 2017. Kemudian saya sudah mulai jarang datang karena kesibukan saya sudah berbeda.

Selama delapan tahun tahun di RBS , saya belajar tentang sebuah kehidupan. Partisipasi saya selama menjadi relawan di RBS, saya turut serta mengajar adik-adik saat kegiatan belajar dan membantu segala persiapan kegiatan RBS seperti ikut dalam kegiatan JSA, KADO, dan banyak lagi kegiatan seru yang lain.

Ada beberapa pengalaman yang susah dilupakan saat jadi relawan RBS, satu diantaranya adalah saat adik-adik mempersiapkan Perpustakaan Keliling (PUSLING) untuk program KADO Sahabat Anak. Mereka mempunyai kesempatan untuk mempresentasikan hasil PUSLING mereka di depan para juri yang hebat-hebat. Dimana waktu itu salah satu jurinya yang masih saya ingat Mas Andi Noya.

Saya merasa kagum saat melihat mereka berani untuk berdiri di hadapan juri. Tidak berhenti disana, mereka pun akhirnya mendapatkan juara 1 dan program PUSLING mereka menjadi yang terbaik. Dan kebetulan saya adalah  PIC untuk kegiatan KADO tersebut. Oleh karena itu, saya tahu persis bagaimana proses adik-adik bisa sampai di titik tersebut.

Selain menjadi juara 1, RBS juga terpilih menjadi juara favorit. Nah, proses untuk dapat menjadi juara favorit juga salah satu yang tidak bisa dilupakan. Karena dalam proses itu kami kakak- kakak relawan setiap pulang mengajar langsung pergi mencari like facebook di berbagai tempat.

Seperti di Taman Menteng, KFC, dan bahkan sampai ke tukang nasi goreng di pinggir jalan untuk kami minta tolong dan kami melakukannya sampai dini hari. Momen tersebut adalah momen yang sangat tidak bisa saya lupakan hingga hari ini . Bahkan moment tersebut  yang makin mempererat hubungan kami sesama relawan RBS.

Satu hal yang mengharukan adalah saat saya bertemu dengan salah satu adik di jalan, saya kaget karena tiba tiba ada yang memanggil saya. Saat itu saya belum tahu pasti siapa yang memanggil saya. Kemudian, adik itu bilang “Kak Nosen, ini Anggun” saat itu saya langsung tersentuh dan menangis di dalam hati. Saya gak menyangka mereka masih ingat dengan saya, bahkan mereka mau menyapa saya.

Tak hanya itu, pernah satu waktu saya sedang latihan teater di Taman Ismail Marzuki dan saya bertemu dengan adik Paul yang sedang latihan dance. Dia udah besar dan dia masih mengenali saya. Saya kagum melihat perubahannya yang semakin dewasa, apalagi saat dance dia terlihat sangat keren.

Mungkin untuk sebagian besar orang yang membaca cerita saya ini, pengalaman saya ini adalah hal yang biasa. Tapi, bagi saya hal- hal kecil seperti itu sangat menyentuh buatku. Mungkin, orang lain melihat saya mengajar adik-adik, tapi sesungguhnya saya yang belajar dari mereka.

Kebersamaan dengan kakak-kakak pengajar lain juga memberikan sebuah pelajaran tentang bagaimana memberi. Saya melihat banyak cinta yang dimiliki oleh kakak kakak pengajar lain. D itengah kesibukan, mereka mau membagi waktu, tenaga, pikiran, bahkan uang tanpa menimbang untung dan rugi.

Cinta adalah hal terbaik dari yang baik yang bisa saya dan relawan berikan untuk adik-adik. Teruslah berbagi cinta, karena cinta adalah awal dari segala yang hidup. Terima kasih RBS sudah mengisi ratusan lembar kertas dalam catatan kehidupan saya. Sehat dan bahagia selalu untuk adik dan kakak RBS.

Salam Cinta,
Nosen