MEMILAH SAMPAH

Sudahkah Kamu Memilah Sampah Organik dan Anorganik?

 

 

Sampah yang tidak dipilah menyebabkan penumpukan sampah. Pemilahan sampah merupakan proses yang sulit dan memerlukan waktu lama oleh petugas sampah karena sampah yang sangat banyak. 

 

Tahukah kamu? Sebanyak 81,16% (delapan puluh satu koma enam belas persen) masyarakat Indonesia tidak memilah sampah rumah tangga (BPS 2014). Selain menyebabkan penumpukan sampah, dampak negatif apalagi yang ditimbulkan? 

 

Sampah yang tidak dipilah akan berdampak negatif terhadap lingkungan dan kesehatan. Tumpukan sampah tersebut akan menghasilkan cairan beracun yang disebut leachate, yang dapat mengalir ke sungai, air tanah, dan tanah. Sampah organik yang memasuki saluran air mengurangi jumlah oksigen dan mendorong pertumbuhan organisme yang berbahaya.

 

Sampah yang menumpuk menjadi media penularan infeksi parasit, seperti diare. Daerah dengan pengelolaan sampah yang buruk, maka mengalami penyakit diare dua kali lebih tinggi dan infeksi pernafasan akut enam kali lebih tinggi dibandingkan dengan daerah dengan pengelolaan sampah yang baik (Statistik Lingkungan Hidup Indonesia 2018).

 

Melakukan pemilahan sampah, maka kita bisa menyelamatkan sampah-sampah yang dapat didaur ulang oleh petugas sampah, pemulung, atau para pihak yang berkepentingan. Sedangkan sampah organik yang sudah kita pilah, akan lebih cepat pengelolaannya oleh petuga sampah di TPA, sampah organik merupakan penyumbang sampah terbesar sampah rumah tangga.

 

Memilah sampah juga berdampak positif bagi kita dan makhluk hidup lainnya mendapatkan lingkungan udara yang sehat dan terjaminnya kualitas air dan juga air minum.

 

“Lebih baik repot memilah sampah, daripada repot ketika bencana melanda. Dengan memilah sampah, itu artinya kita berjuang untuk keselamatan diri sendiri, orang banyak, dan bumi.”