PENTIGRAF: Asal Aku Bahagia Karya Raydinda

pict by Three Chatty Cats

Asal Aku Bahagia

                Alkisah hiduplah seekor kucing bernama Pussy. Bulu putih yang kusam, ekor panjang yang tak pernah tegak, badan yang jarang kering karena sering disiram orang dengan air macam-macam. Kucing tak bertuan, tak berumah, tak berbahagia. Perut yang tak pernah kenyang seringkali membuatnya berpikir betapa tak adilnya hidup ini. Dia memang bukan kucing ras dengan bulu panjang nan mengembang. Tetapi, kucing seperti dirinya pun ada yang bertuan. Mengapa itu tidak berlaku untuknya?

Hari ini tubuh Pussy basah kuyup lagi. Bandeng presto di dalam kantong plastik putih yang dimakannya sepuluh menit lalu membuat empunya marah dan mengguyur Pussy dengan seember air. Baginya, itu lebih baik daripada babak belur karena sapu, batu, atau kayu.

Kaki Pussy tebal oleh tanah yang dengan senang hati menempel karena seluruh tubuhnya basah. Ia sibuk berlari menjauh sehingga tubuhnya mulai mengering sendiri walaupun morat-marit tak karuan. Sebuah suara tiba-tiba bertanya pada Pussy, “Kau mau bertukar nasib?” Pussy lantas mendongak, mengikuti arah yang ditunjuk sosok itu. Dilihatnya kucing cantik yang sekarat, tengah ditangisi pemiliknya. “Dirimu yang akan dikira mati kalau kau mau.” Pussy mengangguk. Baginya, tak akan ada yang berubah jika dirinya yang mati. Dengan bertukar nasib, ia akan mendapat kehidupan yang baru. Sementara anak kecil itu akan mengira kucingnya hidup kembali.

End

Raydinda Shofa, remaja yang akrab disapa Ray. Sangat protes jika ada yang menambahkan nama lain di belakang sapaannya sehingga mirip dengan nama seorang artis asal Indonesia. Ray menyukai tanggal lahirnya yang bertepatan dengan Hari Wanita. Terjun ke dunia kepenulisan sejak duduk di bangku awal sekolah dasar, tapi jarang menekuninya hingga lulus dari sana. Ketika SMP, Ray sering mengirimkan tulisan untuk sebuah majalah di salah satu universitas, tapi ia tak pernah mendapat konfirmasi. Ray akhirnya berhenti dan memilih fokus pada event umum. Meskipun tak kunjung memperoleh penghargaan atas karyanya, Ray tak pernah berhenti menulis. Ia memang pernah sedikit terpuruk ketika lomba yang ia ikuti untuk mewakili sekolah tidak pernah menyebut namanya saat pengumuman kejuaraan. Akan tetapi, justru hal itu yang membuatnya ingin membuktikan bahwa mereka salah tidak memilihnya. Akhirnya, mulai di bangku SMA, event-event menulis yang diikuti Ray hampir semua menyebut namanya di berbagai kategori.

Kalau teman-teman ingin mengenal Ray lebih jauh, bisa kunjungi dan sapa dia di instagram @ralisha_rayfa. Oh iya, kunjungi juga instagram Ray yang didedikasikan khusus untuk konten tulisan di @catatan_blueray. Jangan takut menyapa, ya?

Saat ini, Ray baru saja lulus dari SMA dan hendak menempuh pendidikan lanjutan di program studi psikologi. Soal menulis, ia tentu akan terus melakukannya. Bagi Ray, ketika nanti sudah tidak ada yang dengan leluasa ia lakukan, menulis adalah kegiatan yang pasti masih bisa dilakukannya.

“Writing is how I will live my life and love myself.” [Raydinda Shofa]