Senandika: Bunga Karya Ihya Nur Fawa’id

pict. pintersert

Bunga

Ihya Nur Fawa'id

Bunga itu masih tumbuh. Tersimpan dengan baik di pot; di atas meja belajarku. Ia menghadap ke jendela. Ia terpenjara. Seperti kenangku atas dirimu saat ini. 

Aku tak pernah menyangka, bunga yang saat itu ingin kujadikan sebagai simbol cinta yang kita bisa ikat dan satu padu, malah menjadi titik bagi cerita kita satu sama lain. 

Kau tolak mentah-mentah bunga yang kuberi; baik yang nyata mau pun yang kuungkapkan dari hati. Sungguh layu diri ini kau buat, sayang. 

Oh maaf, aku tak pantas memanggilmu sayang.

Berhari-hari aku rawat perasaan ini. Aku terus pupuk perhatianku kepadamu. Sadar tak sadar, ketulusanku ternyata berbunga sebuah cinta. Aku sangat mencintaimu. Namun ternyata bunga itu tak juga tumbuh di hatimu.

Bungaku masih ada, Nona. Walau layu. Perasaan itu masih utuh, Nona. Walau tlah lama lalu. Entah sampai kapan, aku harus menahan lilitan akar-akar cinta ini. Entah mulai kapan, aku akan meranggaskan bunga-bunga cinta ini.

2021

****

Ihya Nur Fawa'id pria kelahiran Bayumas, maret 2002 ini senang membaca puisi, cerpen dan esai-esai sastra.  Pria yang katanya belum tebiasa membaca novel karena menurutnya terlalu panjang ini kini sedang belajar cara menjadi pembaca yang baik. Pembaca yang bisa berpikiran baik, benar logis dan menyenangkan. Menurut lelaki itu untuk menulis sebuah karya yang ciamik maka harus terlebih dulu membaca dengan apik.

Selain sedang sibuk belajar menjadi pembaca yang baik, pria satu ini kini sedang sibuk menulis ulasan tentang buku-buku yang pernah ia baca, dalam rangka mengambil saripati dan makna dari buku bacaannya. Dia juga menulis puisi dan cerpen.  Jika kalian ingin melihat karya-karya hebat miliknya, kalian bisa temukan di instagram @ihyafawaid_ atau jika ingin lebih dekat lagi bisa langsung dm dan hubungi langsung lewat email ihyafaw@gmail.com

Selamat berkenalan!