Kemandirian dan Prestasi Anak Berkebutuhan Khusus

RBI – Kali ini Ruang Indonesia Bercerita berkunjung di salah satu Sekolah Luar Biasa (SLB) di Surakarta. Pada kesempatan tersebut Naufal (founder) bersama Ryan (Co-founder) RBI bertemu dengan Pak Wahyu salah satu guru muda yang mengajar di SLB tersebut. Dalam misi untuk menjaring anak-anak luar biasa agar lebih giat dalam berprestasi di bidang sastra mereka—Naufal & Ryan—mencari jawaban kepada Pak Wahyu.

“Tidak ada bedanya, Mas. Anak-anak luar biasa ini dengan anak normal yang lain dalam hal kemampuan psikomotorik sulit untuk menemukan perbedaannya. Jika kita melihat pada anak tunagrahita yang karena kendala intelegensi tentu lain kondisi. Namun, jika kita lihat anak tunarungu atau tunawicara kemampuan psikomotorik mereka bahkan melebihi kemampuan gurunya,” ungkap Pak Wahyu.

Pada dasarnya memang Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) tidak kalah dengan anak yang lain. Kekurangan yang mereka terima tidak dapat dijadikan sebuah alasan untuk tidak berprestasi. Seperti yang diungkapkan oleh Pak Wahyu bahwa kemampuan mereka bahkan melebihi kemampuan gurunya.

“Salah satu siswa kami, Mas, yang sekarang sedang duduk di bangku SMA dan akan lulus tahun ini. Pada kesempatan yang lalu dia mengikuti lomba melukis tingkat nasional, alhamdulillah dia mendapat juara satu,” ungkap Pak Wahyu. 

Tak hanya berprestasi, tetapi siswa-siswa di SLB tersebut juga dibekali kemampuan agar bisa mandiri dalam menyongsong masa depan mereka. Dalam ekstrakurikuler di SLB tersebut terdapat ekskul salon dan menjahit. Jadi memang selain mahir dalam ranah yang mereka kuasai—ABK—mereka juga akan mampu bila sudah lulus dari sekolah dengan bekal kemampuan-kemampuan yang diperolehnya.

“Selain mata pelajaran umum yang diajarkan di sini, kami juga memberikan bekal kepada mereka agar bisa mandiri, Mas. Kami memberikan ekstrakurikuler salon dan menjahit agar kelak ketika mereka sudah lulus dari sini mereka bisa hidup mandiri dengan keahlian yang diperolehnya,” tutur Pak Wahyu.

Prinsip dari SLB sendiri adalah untuk membuat anak berkebutuhan khusus mampu menjalani kehidupan mereka selayaknya manusia normal yang lain dan membuat mereka dapat berprestasi bahkan melebihi prestasi yang tidak mampu dicapai oleh orang normal pada umumnya. 

KEMANDIRIAN DAN PRESTASI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

RBI – Kali ini Ruang Indonesia Bercerita berkunjung di salah satu Sekolah Luar Biasa (SLB) di Surakarta. Pada kesempatan tersebut Naufal (founder) bersama Ryan (Co-founder) RBI bertemu dengan Pak Wahyu salah satu guru muda yang mengajar di SLB tersebut. Dalam misi untuk menjaring anak-anak luar biasa agar lebih giat dalam berprestasi di bidang sastra mereka—Naufal & Ryan—mencari jawaban kepada Pak Wahyu.

“Tidak ada bedanya, Mas. Anak-anak luar biasa ini dengan anak normal yang lain dalam hal kemampuan psikomotorik sulit untuk menemukan perbedaannya. Jika kita melihat pada anak tunagrahita yang karena kendala intelegensi tentu lain kondisi. Namun, jika kita lihat anak tunarungu atau tunawicara kemampuan psikomotorik mereka bahkan melebihi kemampuan gurunya,” ungkap Pak Wahyu.

Pada dasarnya memang Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) tidak kalah dengan anak yang lain. Kekurangan yang mereka terima tidak dapat dijadikan sebuah alasan untuk tidak berprestasi. Seperti yang diungkapkan oleh Pak Wahyu bahwa kemampuan mereka bahkan melebihi kemampuan gurunya.

“Salah satu siswa kami, Mas, yang sekarang sedang duduk di bangku SMA dan akan lulus tahun ini. Pada kesempatan yang lalu dia mengikuti lomba melukis tingkat nasional, alhamdulillah dia mendapat juara satu,” ungkap Pak Wahyu. 

Tak hanya berprestasi, tetapi siswa-siswa di SLB tersebut juga dibekali kemampuan agar bisa mandiri dalam menyongsong masa depan mereka. Dalam ekstrakurikuler di SLB tersebut terdapat ekskul salon dan menjahit. Jadi memang selain mahir dalam ranah yang mereka kuasai—ABK—mereka juga akan mampu bila sudah lulus dari sekolah dengan bekal kemampuan-kemampuan yang diperolehnya.

“Selain mata pelajaran umum yang diajarkan di sini, kami juga memberikan bekal kepada mereka agar bisa mandiri, Mas. Kami memberikan ekstrakurikuler salon dan menjahit agar kelak ketika mereka sudah lulus dari sini mereka bisa hidup mandiri dengan keahlian yang diperolehnya,” tutur Pak Wahyu.

Prinsip dari SLB sendiri adalah untuk membuat anak berkebutuhan khusus mampu menjalani kehidupan mereka selayaknya manusia normal yang lain dan membuat mereka dapat berprestasi bahkan melebihi prestasi yang tidak mampu dicapai oleh orang normal pada umumnya.