Jangan Takut Menjadi Beda, There Is No Will There Is No Way

Opening Ruang Indonesia Bercerita yang dilaksanaan pada Senin, 5 April 2021 mengundang sosok inspiratif, seorang atlet difabel cabang olahraga lari sekaligus Mahasiswa Universitas Sebelas Maret yang berasal dari Bali, yakni Ni Made Arianti Putri. Berawal dari bullyan  teman-temannya sewaktu masih di bangku sekolah dasar, kini Ni Made Arianti Putri telah meraih kejuaraan di berbagai perlombaan. Ni Made Arianti atau yang sering disapa Arianti merupakan salah satu atlet difabel andalan Indonesia pada cabang olahraga lari spesialis Run 100M. Ia memiliki kekurangan pada penglihatannya, namun kekurangan fisik yang dimiliki Arianti sama sekali tidak mengurangi tekadnya untuk menemukan passion yang ada dalam diri Arianti. Bahkan kini Arianti mampu membuktikan bahwa kekurangan bukanlah suatu alasan untuk tidak memulai sesuatu, Arianti yakin niat dan usaha yang keras mampu menghasilkan sesuatu yang memuaskan pula. Arianti telah mengikuti berbagai perlombaan mulai dari kejuaraan nasional hingga internasional. Prestasi terbaik yang dicapainya adalah meraih medali perak ASEAN Para Games 2017.Beberapa event kejuaraan batal diikuti oleh Arianti  akibat pandemi Covid 19 salah satunya yakni, kejuaraan di Filipina. Batalnya event ini sungguh disayangkan oleh Arianti karena ia telah mempersiapkan kejuaraan tersebut sedemikian rupa, mulai dari persiapan fisik hingga perlengkapan pakaianpun sudah disiapkan dan juga  telah mengorbankan waktu untuk kuliah. Arianti kini tengah mempersiapkan kejuaraan internasional yang akan diikuti di Vietnam. Arianti berharap perlombaan ini dapat dilaksanakan secara lancar tidak ada halangan apapun.

Perjalanan Arianti menjadi seorang atlet lari tidaklah mudah, berbagai hal sulit telah dilalui dan dikorbankan oleh Arianti. Arianti tak jarang mengulang mata kuliah karena dirinya sering meminta izin dengan alasan latihan dan mengikuti suatu event. Hal ini menjadi salah satu resiko dirinya menjadi atlet yang memerlukan izin tidak hanya satu atau dua hari, minimal untuk latihan saja satu minggu. Arianti mengungkapkan bahwa “kalau dipikir-pikir kalau dicermati lagi sebenarnya kita tuh ngga ada sesuatu yang ngga mungkin ngga bisa”. “Orang yang ngga mau berusaha itu mungkin banyak menyerah karena begitu banyak jalan, nggak hanya satu jalan untuk mencapai itu, misalkan mau pergi ke mana kan kita masih punya jalan alternatif’”, sambungnya lagi.

Menjatuhkan pilihan menjadi seorang atlet bukanlah salah satu jalan yang dipilih Arianti, sebelumnya ia telah mencoba diberbagai bidang, di bangku sekolah Arianti kerap mengikuti berbagai perlombaan seperti cerdas cermat, olimpiade, paduan suara hingga teater. Namun Arianti merasa dirinya kurang cocok sehingga tidak berkembang saat belajar di bidang-bidang tersebut,  hingga pada akhirnya Arianti ditawari oleh guru olahraganya untuk mencoba mengikuti lomba lari, dan pada saat itu  juara di tingkat Tajar yang merupakan   kejuaraan nasional di Jogja. Pada awalnya Arianti tak yakin dirinya mampu mengikuti perlombaan lari karena postur tubuhnya yang dirasa kurang pas untuk menjadi seorang atlet, ia juga merasa mentalnya yang cengeng tak mampu menjadikan dirinya menjadi seorang atlet. Bahkan pada awal-awal latihan Arianti mengaku latihan lari sambil menangis tetapi ia tetap latihan walaupun sambil menanagis. Namun sekarang Arianti telah berhasil menaklukan dirinya sendiri, menemukan passion yang cocok dengan dirinya sehingga mampu mengembangkan kemampuan dirinya secara maksimal. Dari kisah Arianti kita belajar bahwa, kita harus memiliki kemauan untuk memulai sesuatu dan jangan takut untuk menjadi berbeda. Berbeda tidak selamanya buruk tergantung bagaimana diri kita menghadapinya.