Cerbung: Di Sini Kita Pernah Jatuh Cinta || PROLOG

Waktu itu, aku masih jadi murid baru di bilangan Jakarta setelah menghabiskan enam belas tahun di Jogja. Tidak ada yang menarik dari sana sebelum aku bertemu dengan Kelana Adjie. Teman semejaku yang sudah satu tahun tinggal kelas.

Penampilannya? Kerah kemejanya selalu berantakan, tidak menggunakan ikat pinggang, tidak pernah pakai dasi dan semua yang ada di kepalamu soal anak nakal. Meski begitu, Kelana ternyata baik juga, dia jadi do and dont’s-ku saat bulan-bulan pertama di sekolah.

Sebentar memang, karena setelah naik kelas tiga kami harus pisah kelas.

Semnejak itu, aku jadi jarang melihat Kelana, laki-laki itu hampir tidak pernah kelihatan di mana pun. Di terminal yang sering kami gunakan untuk janjian sepulang sekolah juga tidak ada. Sesekali aku pernah bertanya pada teman-temannya yang nongkrong di warung sambil merokok.

Jawabannya juga nihil, Kelana seperti di telan bumi. Sempat aku datang pagi-pagi sekali untuk memastikan bahwa Kelana masih tetap sekolah, kami sudah kelas tiga dam seperti janjiku padanya, kita akan lulus bersama-sama.

Tidak ada yang alu dapatkan selain kenyataan bahwa di sana, di terminal sore itu saat aku sengaja pulang telat dari sekolah, Kelana dengan seragam putih abu-abunya malah sibuk hilir mudik dari bus satu ke bus lainnya.

“Lana!”

Wajahnya gelagapan, seperti pencuri yang tertangkap basah. Aku setengah berlari, dia tahu aku akan marah setelahnya jika dia mencoba menghindariku.

“Kok kamu di sini, sih?”

“Aku harus kerja, Juni.”

Tangannya membawaku menjauh dari polusi, lalu membuatku duduk di bangku panjang yang digunakan penumpang untuk menunggu bus. “Kamu ngapain jam segini belum pulang?”

“Aku yang harusnya nanya itu Lana, gak seharusnya kamu di sini sekarang.”

Yang aku tahu saat itu adalah titik terendah Lana dalam hidupnya. Ayahnya pergi ketika mengetahui ibunya terkena TBC dan ia harus tetap menafkahi adik-adiknya yang berjumlah tiga orang. “Juni, kamu jangan ke sini lagi. Gak bagus buat kamu.”

“Lana, sebentar lagi ujian sekolah. Semua orang nyariin kamu sekarang.”

Laki-laki itu menggeleng dengan sisa harapannya. Seragamnya lusuh seperti wajahnya yang ditekuk keadaan. Saat itu aku tahu bahwa Lana, di balik tingkahnya yang menyebalkan, pundaknya harus di paksa lebih kuat dari siapa pun. Laki-laki yang sering mengajakku makan sate usus di terminal itu ternyata menyimpan luka sebanyak ini.

***

“Hei anak baru!”

Itu adalah kalimat pertamanya saat melihatku yang baru datang kepagian di hari pertama masuk sekolah.

“Pindahan dari mana?”

“Jogja,” kataku singkat.

“Oh, berati pintar buat gudeg ya?”

Jujur saja, jika bukan karena Lana orang asing untukku—saat itu. Aku akan menertawakannya karena tidak semua orang Jogja harus pintar masak gudeg ‘kan?”

Namun dari sana, Lana membuatku lebih sering masuk ke dapur saat hari raya, membantu ibu memasak gudeg. Harus kucatat setiap bumbu dan bahan yang digunakan, karena Lana bilang, ia menyukai makanan itu.

“Emm, tidak juga sih.

Sampai saat ini, segala hal tentang Lana seperti memoriam yang tidak pernah habis membawaku keluar dari perasaan itu.

“Mari jangan saling jatuh cinta.”

Namaku Juni, dan Kelana adalah best of part in my life.

Bersambung 

****

Halo, saat ini sebut saja aku anonim dulu ya. Walaupun katanya tak kenal maka tak sayang, tapi semoga dari cerita ini kalian bisa sedikit mengenalku. Cerita ini aku dedikasikan kepada siapa pun yang pernah jatuh cinta. Jika ini untukmu, jangan lupa tinggalkan jempol di bawah, dan sertakan kesan pertama kali kamu membaca ini.

Salam kenal
Yang mencintaimu