Grand Opening Gerakan UI Mengajar 11 Berjalan Khidmat Dihadiri Tokoh Inspiratif dan Edukatif

Jakarta, 5 September 2021 – Gerakan UI Mengajar 11 berhasil melangsungkan Grand Opening GUIM 11 "Bentangkan Layar, Labuhkan Inspirasi" yang membahas tentang problematika pendidikan di daerah pelosok terlebih di kondisi pandemi dengan menghadirkan Nur Fitrianna dari Direktorat Sekolah Dasar Kemendikbud Ristek RI, Radinka Qiera selaku Chief Operating Officer dari Sekolah.mu, serta Shahnaz Safitri yang merupakan Psikolog serta Dosen Fakultas Psikologi di Universitas Indonesia. Webinar yang dihadiri oleh 85 partisipan dari berbagai institusi ini dilakukan sebagai bentuk 'gong pembuka' perjalanan Gerakan UI Mengajar 11 yang akan menyasar Kabupaten Sumedang.

Grand Opening GUIM 11 ini dibuka dengan sambutan hangat dari Leon Alvinda Putra, Ketua BEM UI 2021, yang mengapresiasi Gerakan UI Mengajar 11 atas perencanaan matangnya untuk dapat turun langsung ke wilayah aksi secara luring di daerah Kabupaten Sumedang. Leon juga menyatakan bahwa dengan ini diharapkan Gerakan UI Mengajar 11 dapat menginspirasi kegiatan pengabdian masyarakat lainnya untuk dapat mewujudkan kontribusi nyatanya untuk masyarakat luas.

Webinar dimulai oleh pembicara pertama, Nur Fitrianna dari Direktorat Sekolah Dasar Kemendikbud Ristek RI, yang membuka dengan menampilkan video berlatarkan permasalahan pendidikan di daerah pelosok. Permasalahan ini lah yang mendorong pemerintah untuk menggalakkan kampus mengajar. Nur Fitrianna juga memaparkan bahwa program pengabdian masyarakat bidang pendidikan seperti ini harus tepat guna dan sasaran menyesuaikan titik sasaran, karena kebutuhan pendidikan untuk setiap daerah pelosok bisa berbeda sehingga program seperti ini harus disesuaikan dengan karakter dari daerah sasaran masing-masing.

 

Sesi kedua dilanjut dengan paparan materi oleh Radinka Qiera selaku Chief Operating Officer dari platform edukasi berbasis teknologi, Sekolah.mu. Radinka membuka pemaparannya dengan menyatakan bahwa masalah ketidakmerataan pendidikan ini bukanlah akibat dari pandemi, melainkan masalah ini memang sudah ada dari lama namun saja pandemi ini membuatnya semakin terlihat jelas. Pandemi ini pun memaksa percepatan digitalisasi dalam dunia pendidikan dan mendorong terwujudnya "future of education" yang dapat diakses dari kapan dan di mana saja. Digitalisasi pendidikan ini pun juga harus dibarengi dengan kolaborasi dari berbagai pihak agar tujuan lebih mudah tercapai.

 

Pemaparan terakhir oleh Shahnaz Safitri yang merupakan Psikolog sekaligus dosen Universitas Indonesia yang memulainya dengan kutipan "Pendidikan untuk Semua, Pendidikan oleh Semua". Shahnaz melanjutkannya dengan paparan terkait filosofi mengapa pendidikan untuk anak itu harus diselenggarakan. Lebih lanjut, Shahnaz juga menjelaskan bahwa Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) bisa menjadi strategi untuk keberlanjutan belajar anak pada situasi krisis pandemi Covid-19. Terakhir, Shahnaz juga memberikan sejumlah rekomendasi untuk pembelajaran di tengah pandemi Covid-19 seperti pelatihan bagi guru untuk pelaksanaan PJJ hingga pendampingan orang tua serta komunitas untuk terlibat di dalam pendidikan anak.

 

"Pendidikan adalah salah satu faktor yang membawa kita pada kemerdekaan, pendidikan yang tidak baik dapat menyeret kita kembali pada ketertinggalan. GUIM hadir siap membentangkan layarnya ke wilayah pelosok Indonesia untuk memberikan manfaat serta inspirasi semangat belajar kepada anak-anak sekolah dasar di titik aksi nanti." ucap Dian Anggreini selaku Project Officer dari Gerakan UI Mengajar 11. Acara pun ditutup dengan penyampaian ucapan terima kasih kepada para pembicara dan antusiasme dari peserta yang tampak dari banyaknya pertanyaan dan diskusi yang muncul dari para partisipan pada sesi talkshow dan tanya jawab.

 

Gerakan UI Mengajar sebagai gerakan pengabdian masyarakat yang menyasar pendidikan tidak hanya mendukung pendidikan sekolah dasar daerah pelosok sebagai sasaran kegiatan utamanya, melainkan juga mendorong para pemuda yang dengan mudah mendapat akses acara ini. Gerakan UI Mengajar yakin bahwa dengan diadakannya acara ini, selain menjadi tanda pembuka pelayaran, acara ini juga dapat membuka mata mahasiswa akan problematika ketidakmerataan pendidikan di tanah air sehingga ini mendorong pergerakan mahasiswa untuk turut berkontribusi mewujudkan pendidikan tanah air yang lebih baik.