Apa itu Beauty Privilege? Bagaimana cara menghadapinya?

 

BEAUTY PRIVILEGE 

 

Beauty Privilege merupakan hak istimewa yang didapatkan oleh orang yang dianggap cantik dan memenuhi standar kecantikan yang diakui oleh masyarakat. Orang dengan beauty privilege ini, biasanya akan ‘diistimewakan’ dalam hal apapun karena kecantikannya secara fisik. 

 

PENYEBAB ADANYA BEAUTY PRIVILEGE

 

Sebenarnya tidak diketahui dari mana beauty privilege ini berasal, sampai akhirnya sekarang ini banyak membawa dampak negatif. Namun, beauty privilege ini sebenarnya hadir dari pandangan dan kepercayaan masyarakat. Dimana masyarakat sangat mempercayai “standar kecantikan” secara berlebihan, sehingga akhirnya memberikan perlakukan khusus kepada mereka yang memenuhi “standar kecantikan”. 

 

DEFINISI ‘BEAUTY’ MENURUT MASYARAKAT

 

 

1.Bertubuh sempurna 

Body shaming mungkin saja terjadi akibat stigma yang ditimbulkan oleh masyarakat ini. Body shaming adalah istilah yang merendahkan penampilan fisik seseorang atau kelompok. Tawa dan lelucon sering digunakan bersamaan dengan body shaming. Padahal, sengaja atau tidak, sikap seperti itu menunjukkan penghinaan. Standar kecantikan masyarakat untuk penampilan tubuh adalah seseorang yang langsing. Anggapan inilah yang menjadi sumber fatphobia.Selain itu, stigma bahwa bertumbuh sempurna itu tentu menyinggung penyandang disabilitas dan dapat     menimbulkan diskriminasi yang disebut dengan ableism.

2. Berkulit putih

Standar sosial 'kecantikan' dalam hal warna kulit dapat menyebabkan rasisme dan colorism. Colorism adalah diskriminasi terhadap warna kulit. Biasanya, warna kulit terang dianggap lebih baik dari warna kulit gelap.  Orang dengan kulit berwarna putih dianggap memenuhi 'standar kecantikan' yang ada dan berkembang di lingkungan masyarakat. Sebagai akibat dari stereotip ini, orang-orang dari berbagai warna kulit telah didiskriminasi. Selanjutnya, rasisme adalah hasil dari stereotip ini. Rasisme adalah praktik diskriminasi terhadap orang-orang dari ras tertentu.  

Pada isu ini, rasisme akan tertuju pada ras yang identik dengan warna kulit tertentu selain kulit warna putih.

 

                                    

3.Feminitas untuk perempuan dan maskulinitas untuk laki-laki.

Ketika perempuan menunjukkan feminitasnya, mereka dipandang memiliki wajah yang lebih cantik oleh masyarakat. Laki-laki, tidak lain, terlihat lebih menarik oleh masyarakat ketika mereka menampilkan kejantanannya. Stigma ini berpengaruh besar terhadap stereotip terhadap gender.

4.Berpenampilan muda

Hal ini dapat ditunjukkan dengan adanya indikasi fisik penuaan yang oleh masyarakat dianggap sebagai sifat negatif. Pipi yang kendur, pori-pori yang membesar, dan bercak-bercak hitam hanyalah beberapa contoh. Terlepas dari kenyataan bahwa ini adalah bagian normal dari proses penuaan.

 

DAMPAK BEAUTY PRIVILEGE

  • Beauty Privilege Menimbulkan Rasa Insecurity

Dampak negatif dari privilege dapat berpengaruh pada kondisi mental seseorang. Insecurity muncul saat kita membandingkan diri dengan orang lain. Seseorang yang insecure berpikir bahwa mereka lebih baik daripada kita. Timbul rasa kurang percaya diri akibat berbeda dengan mayoritas 'beauty privilege' 

  • Hadirnya stigma 'Keadilan sosial bagi rakyat yang good looking' 

Tentunya sangat tidak sesuai dengan sila ke 5 dalam pancasila yang berbunyi “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia”. Adanya kenyataan yang begitu keras dalam masyarakat, menyebabkan banyak orang yang memplesetkan bunyi sila tersebut. Sesuai dengan fakta yang terjadi yaitu diberi perlakuan khusus dalam lingkup masyarakat luas

  • Kukuhkan Seksisme dan Rasisme

Kompetensi wanita dalam dunia kerja dan berbagai aspek lainnya di ranah publik selalu dibenturkan dengan narasi standar kecantikan, penampilan ideal, dan pembawaan sikap yang submisif dan lemah lembut.

 

CONTOH FENOMENA

Beauty privilege itu nyata dan tentu berdampak pada semua orang, baik perempuan maupun laki-laki. Beberapa bulan lalu, ada tren di tiktok di mana mereka memberi tahu orang-orang bahwa mereka memiliki beauty privilege tanpa memberi tahu secara langsung. Tren nya diikuti oleh banyak orang dengan membahas pengalaman beauty privilege masing-masing.  Tidak juga sedikit yang mengatakan bahwa beauty privilege itu nyata tetapi cara pemanfaatannya itulah yang penting. 

 

Contoh fenomena beauty privilege terjadi pada Cameron Russell. Secara gamblang, ia menjelaskan di TED talk x Mid Atlantis pada tahun 2013 bahwa ia dapat menjadi model karena beauty privilege yang ia miliki seperti keberuntungan genetik. 

 

Note: Russell, Cameron. (2013, January). Looks aren't everything. Believe me, I'm a model. TED talk x Mid Atlantis. https://youtu.be/KM4Xe6Dlp0Y 

 

Russell mengatakan bahwa dengan memiliki paras yang memenuhi definisi kecantikan dari masyarakat seperti berkulit putih, tinggi, sosok yang ramping, dan feminitas nya, ia dikagumi dan diistimewakan secara fisik oleh banyak orang. “Selama berabad-abad, kami telah mendefinisikan kecantikan sebagai lebih dari sekadar kesehatan, masa muda, dan simetri, yang secara fisik telah kami hargai.”, jelasnya.

 

Komentar video tersebut dihiasi dengan berbagai sudut pandang. Banyak yang beranggapan bahwa hal yang dilakukan Russell itu dimaksudkan untuk mendekonstruksi penciptaan kecantikan di industri modeling dan meningkatkan kesadaran publik akan beauty privilege.

 

Banyak hal yang bisa kamu lakukan untuk menanggapi beauty privilege. Seperti beberapa team Sensible ini, sense!


 

  1. Natasha Setyamukti

 

Aku sendiri berusaha untuk lebih mensyukuri apa yang aku miliki saat ini, tidak hanya secara fisik. Aku yakin setiap dari kita memiliki keunikan masing-masing dan walaupun kita tidak cantik secara fisik, akan ada banyak pintu lain yang terbuka, kalau kita memiliki kebaikan yang datang dari hati.

  1. Rachelin Miyuki Hendratmo

 

Aku selalu mencoba untuk mendidik diri sendiri dan aware tentang isu ini yang berdampak ke semua orang. Orang yang memiliki beauty privilege sering kali disalahkan, juga dengan orang yang dianggap tidak memenuhi standar kecantikan merasa tidak mendapat perlakuan yang setara. Cara aku menghadapi beauty privilege yaitu dengan tidak menilai kualitas diri orang berdasarkan penampilan yang memenuhi/tidak memenuhi standar kecantikan menurut masyarakat, percaya bahwa setiap orang memiliki definisi cantiknya masing-masing, dan keep in mind kalau validasi society dengan adanya beauty privilege adalah bukan segalanya. “Privilege itu ga harus tentang cantik”.

 

Nah, sense! itu tadi beberapa tips menghadapi beauty privilege. Beauty privilege itu ada dan berdampak terhadap semua orang. Bagaimana cara masing-masing menanggapinya tentu berbeda. Perlu dipahami bahwa pandangan dan perlakuan dari masyarakat terhadap penampilan kita bukan merupakan hal yang kita butuhkan. Memang, seseorang dengan paras yang dianggap menarik oleh masyarakat akan lebih mudah dalam mencapai sesuatu. Bagaimanapun, untuk kamu yang merasa tidak memiliki beauty privilege, kita bisa mengubahnya dengan menunjukkan kualitas yang ada pada diri kita. Sikap positif, keahlian, bakat, dan perilaku etis akan selalu dihargai dan dibutuhkan. And remember to always appreciate and embrace yourself!

 

Referensi

https://www.idntimes.com/science/experiment/adhyasta-dirgantara/beauty-privilege-bikin-hidup-karir-dan-sosial-lebih-lancar/1 

https://kabardamai.id/beauty-privilege-media-dan-insecurity/

https://ibtimes.id/beauty-privilege-bentuk-pelanggaran-ham/

https://womenlead.magdalene.co/2021/07/15/beauty-privilege-di-tempat-kerja-bukti-standar-kecantikan-tak-masuk-akal/

https://magdalene.co/story/influencer-dan-beauty-privilege-ketimpangan-yang-harus-dibicarakan 

https://youtu.be/fTW05DvtdZ8 

https://ultimagz.com/opini/menilik-beauty-privilege-hak-istimewa-pemilik-paras-rupawan/