MINDFULNESS (dalam perspektif islam)

Seringkali kita menemui masa dimana perasaan cemas, gelisah, tidak tahu kemana tujuan hidup, atau bahkan depresi kita rasakan. Masalah datang silih berganti tidak kenal waktu dan tempat. Sampai rasanya kita tidak sanggup bernafas sejenak bahkan tidur pun jadi terganggu.

Kita memang tidak bisa mengatur kapan masalah akan datang pada kita. Tapi yang pasti kita bisa mengatur diri bagaimana menyikapi masalah yang ada dan membuat pikiran kita lebih baik.

It's not about action, it's about reaction.

Salah satu cara mengatur reaksinya adalah dengan mindfulness.

Mindfulness adalah kita sadar penuh dan hadir utuh akan apa yang sedang kita pikirkan serta kerjakan.

Dasar dari mindfulness adalah self awareness atau mengenal diri dan self acceptanced atau penerimaan diri. Dengan mengenal diri sendiri, kita tahu apa yang sebenarnya kita yakini, rasakan, serta butuhkan, sehingga tidak mudah terombang-ambing atau hanyut dalam pikiran negatif. Hal lainnya yang penting adalah self acceptanced atau penerimaan diri. Kita menerima segala hal kelebihan dan kekurangan yang kita miliki. 

Seringkali, ada banyak informasi yang harus kita serap dalam suatu waktu. Mulai dari berita baik, kabar duka, iklan, dan berbagai macam informasi lainnya yang bisa berpengaruh pada ketenangan hati.

Misalnya, kita tiba-tiba jadi merasa gelisah saat kita membuka Instagram lalu melihat kalau teman sedang pergi liburan ke tempat yang sedang “in” atau ke kafe mewah yang hits. Kita yang sebelumnya merasa baik-baik saja, tiba-tiba langsung merasa takut tertinggal tren. Pikiran kita lalu jadi tidak tenang. Padahal kalau dipikir-pikir, apa benar liburan ini benar-benar kita butuhkan?

Dalam Islam pun, kita sebenarnya sangat dianjurkan untuk mengenal dan menerima diri sendiri. Saat kita kenal dengan diri sendiri, kita ingat Tuhan yang menciptakan kita. Dan saat kita mengingat Tuhan, hati kita akan tenteram.

Seperti yang tersebut dalam Al Quran surat Ar Rad ayat 28 disebutkan, “Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”

Mindfulness membantu kita dalam mengelola cara pandang; bagaimana kita bisa mengalihkan distraksi dan fokus pada apa yang berarti dan penting untuk kita. Tentunya, hal ini perlu dilatih. Pikiran kita perlu dibiasakan untuk bersikap tenang dan menerima segala sesuatu secara sadar terlebih dahulu, sebelum mencernanya. Pahami apa maksud yang melatarbelakanginya. Berpikir sebelum bertindak.

Mindfulness membantu kita dalam mengelola cara pandang; bagaimana kita bisa mengalihkan distraksi dan fokus pada apa yang penting dan mendesak untuk kita. Semuanya tentang priority.

Untuk melatihnya, ada beberapa cara yang bisa dilakukan. Kita bisa mencoba untuk meditasi, berdiam diri, atau kalau dalam Islam, shalat dan zikir adalah latihan untuk mindfulness.

Saat kita shalat, kita diharapkan untuk khusyuk, atau mindful akan bacaan dan gerakan yang kita lakukan. Pikiran kita fokus pada aktivitas ibadah ini. Oleh karenanya, biasanya setelah selesai shalat, pikiran kita menjadi lebih jernih.

Selain itu, bisa juga kita melakukan dzikir. Rasulullah sendiri dulu berdiam diri atau tahannuth di gua Hira, saat perlu memfokuskan diri, berefleksi, dan menjernihkan pikiran.

Dengan membiasakan untuk berpikir dan bersikap mindful, maka kita akan dapat lebih fokus pada apa yang penting dilakukan, sadar dengan apa yang terjadi, serta terhindar dari keputusan sesaat yang membuat hati menjadi tidak tenang. Jadi kita akan terbebas dari rasa cemas, gelisah, tidak tahu kemana tujuan hidup, atau bahkan depresi.

 


Original Article by Clarisa Rahmah

@millenials.peduli