Cerpen: Fana

Pict. Pinterest

Fana
Peserta Seleksi Member RuaS Angkatan 5, Tim C.

***

Pemuda itu berdecak. Lagi dan lagi, suara itu terdengar. Penghakiman masyarakat tentang penampilannya selalu membuatnya muak. Hukum negara boleh ada kebebasan, tapi selalu ada aturan tak terlihat kala menjadi makhluk sosial. Menulikan telinga pun tak cukup. Pemuda itu harus melakukan hal lebih untuk diterima oleh mereka.

Hari sudah semakin siang, ia diperintah ibunya untuk pergi membelikan tepung terigu di sebuah warung. Baru saja ia melangkah dari halaman rumahnya, seorang wanita paruh baya berjalan melewatinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Namun, ia paham bahwa tatapan itu menunjukkan ketidaksukaan. Oke, ia terbiasa dengan itu dan melanjutkan perjalanannya. Sesampainya di warung ia segera menyebutkan apa yang ingin dibelinya, dan segera membayar. 

"Nak Rian, kamu tidak mau ikut magang bersama anak saya?  Setelah lulus SMK, dia mau melamar kerja kalau  sudah selesai magang. Mungkin kamu bisa ikut magang supaya cepat mendapatkan kerja," ujar pemilik warung tersebut. 

Rian menghembuskan napasnya, mencoba menetralkan perasaannya.

Di satu sisi, ibu-ibu arisan sedang berkumpul untuk mengumpulkan dana. Namanya juga ibu-ibu zaman sekarang, serasa kurang bila tidak bertukar info dengan sesama perkumpulan. 

"Aduh… maaf lama ya, Jeng. tadi motorku bannya meletus," seru bibi yang baru datang. 

"Eh enggak papa dong, Jeng. Kita-kita ini juga baru datang, hehe," jawab ibu Munah. Obrolan pun masih senantiasa berlanjut sambil menunggu acara pembagian uang.

Di saat itu, salah satu ibu-ibu, mendelik ke arah Rian yang sedang berbelanja. Benar-benar tatapan yang sukar untuk diartikan.

"Ehh kalian ngomongin gosip yang enggak bermutu banget, aku punya satu info terbaru masih hangat lagi," pekik wanita paruh baya itu.

Sontak ibu-ibu mulai penasaran dan salah satu dari mereka bertanya. "Ihh, Jeng kalau ngomong itu jangan kelewatan, gosip mana ada yang bermutu? emangnya gosip apa sih yang jeng Riska mau omongin?"

Setelahnya mereka saling berbisik.

Rian tak salah dengar, pemuda itu mendengar asma-nya sendiri kala disebut oleh salah satu wanita, lantas ia menengok ke arah gerombolan ibu-ibu itu, seraya mendekat.

"Ibu-ibu ada apa, ya? Saya tadi dengar nama saya." Rian terkekeh pelan.

"Oh ini Rian tuh?" Jeng Riska tak kalah kaget saat mengetahui bahwa oknum yang sedang dibicarakan ada di hadapannya.

Rian lantas bertanya santai. "Iya Bu, ada apa nih?"

Semua barisan ibu-ibu di warung sana terdiam mematung. Namun, hanya Bu Minah saja yang berani berdiri dan membuka obrolannya secara terang-terangan.

"Nak Rian, kalau saran saya, yah, penampilan kamu itu diperbaiki dikit. Minimal kamu rapian, lah, meskipun ke warung," ujar Bu Minah dengan tatapan remeh dari ujung kaki hingga kepala Rian.

Pemuda itu tersenyum canggung, "Maksudnya gimana ya, Bu?"

"Coba kamu lihat diri kamu sekarang. Pakai boxer, kaos lusuh, ditambah rambut gondrong kamu itu yang acak-acakan. Gimana mau dapat kerjaan kalau penampilan aja nggak diperhatiin?" Rian bisa melihat dengan jelas bagaimana para ibu-ibu yang lain mengangguk setuju dengan ucapan Bu Minah.

Detik itu, Rian terkekeh. Kalau dulu ia hanya akan diam setiap kali gunjingan dari para ibu-ibu kompleks terdengar jelas dengan enteng tanpa memikirkan perasaannya, maka kali ini Rian akan membalas hal yang sama. Menyadari etika dan moral sepertinya telah mati untuk orang-orang sepertinya.

"Maaf, Bu. Memang benar penampilan salah satu alasan seseorang diterima kerja. Tapi kayaknya Bu Minah lupa, deh. Attitude adalah salah satu alasan orang diterima dalam masyarakat. Contohnya kayak Bu Minah, nih!" ucapan Rian membuat Bu Minah mengerutkan dahinya.

Untuk kemudian pemuda itu melanjutkan, "Pakaian Bu Minah rapi, ditambah perhiasan sama tas bermerk itu. Tapi lihat, di sekeliling Ibu juga adalah orang-orang yang serupa. Terlalu sibuk cari kekurangan orang lain tapi lupa kekurangan sendiri. Saya harap Bu Minah paham maksud saya. Mari, Bu." Jelas Riyan.

Lantas pemuda itu beranjak pergi. Namun, sebelum terlalu jauh, Rian kembali menoleh pada sekumpulan ibu-ibu tersebut. "Oh iya Bu Minah, saya dengar anak Ibu yang anggota DPR itu jadi tersangka korupsi, yah?"

Mendengar perkataan Rian, Bu Minah langsung tegang. Ia menerima tatapan penjelasan dari ibu-ibu yang di warung. 

"Mah, jadi tidak sih beli sampo Clearnya? Ujang udah mau berangkat ngaji Asar nih!" Kedatangan anak laki-laki yang berusia delapan tahun mencairkan suasana. 

Bu Handoko, yang merasa dipanggil oleh anaknya itu langsung buru-buru mengambil sampo Clear. Ia hampir saja lupa membelinya.

Suasana  kembali hening setelah bu Handoko pergi meninggalkan sekerumuman ibu – ibu "penggibah".
Tiba – tiba bu Minah meyanggah perkataan Rian
"Anak saya itu kerja sebagai wakil aspirasi rakyat, kalau sampai anak saya korupsi ya biarlah dia dihukum karena telah mengecewakan rakyat" sanggah bu Minah dengan sombong. 

Rian yang hanya tersenyum lantas meninggalkan kerumunan ibu – ibu yang sepertinya sudah tidak dapat diajak beradu argumen kembali. 
Belum lama setelah ia membalikkan badan terdengar  nada dering  dari hp bu Minah, raut wajah bu Minah berubah  dan tetesan air mata mulai berjatuhan. 
Tanpa menjelaskan apapun bu Minah lari kerumahnya dan meninggalkan ibu – ibu dan Rian yang mematung kebingungan. 

Rian pun memutuskan untuk pulang dan membaca chat dari grup pemuda pemudi di desanya, terdengar kabar bahwa anak bu Minah terjerat kasus  korupsi dana bantuan sosial mencapai 5 miliyiar rupiah.
Karena takut ketahuan akhirnya anak bu Minah pun bunuh diri dengan menggantung diri di rumahnya. 

Rian hanya bisa terdiam dan kembali merenungi hidupnya, apakah orang yang memiliki jabatan dan harta yang banyak akan selalu merendahkan orang lain?

Tak berselang lama, saat bu minah sampai rumahnya sudah ramai para polisi dan warga yg ingin tau kejadian apa yg telah terjadi. 

Tangisan bu minah pecah saat melihat anaknya sudah tak bernyawa. 
Di sisi lain Rian yg di tunggu ibunya sedari tadi baru sampai rumah setelah beberapa jam lalu meninggalak rumah untuk membeli tepung.
"kemana saja kamu nak? bukannya warung tidak jauh? Kenapa lama sekali baru pulang?", 
"itu tadi…" belum selesai rian bicara tapi sudah di potong oleh ibunya, "apa kamu tau kabar anaknya ibu minah? Dan knapa kau hanya diam begitu? Cobalah datangi kerumahnya siapa tau ada yg bisa kamu bantu di sana" 

Rian masih mematung disana sambil memperhatikan kegesitan tangan ibunya membuat kue, sambil berfikir harus kah aku datang dan membantu mereka, sedangkan mereka saja merendahkan ku dan keluarga ku. 

Rian masih risau dalam balutan kebingungan. Apakah dia akan membantu Ibu Minah atau tidak. Batinnya saling beradu, sisi hati nuraninya mengatakan iya, tapi sisi keegoisannya masih teguh berkata tidak.

"Apa yang kamu lamunkan Rian?"
"Nggak papa Bu, Rian pamit keluar lagi Bu," ucapnya sambil menyalami Ibu.

Akhirnya Rian memutuskan untuk membantu Ibu Minah. Beliau mengingat pesan Ayahnya bahwa keburukan dibalas keburukan tidaklah membawa hal baik. Seketika Rian mengingat kala itu Ayahnya menjelaskan arti dari kebaikan dan keburukan.

Rian tenang aja, semua keburukan juga akan berbalas. Tak usah sibuk membalas, jika dibalas maka sama aja.Cukup doakan kebaikan untuknya, sakit hati? Jelas, tapi bukannya Allah janjikan surga bagi orang yang bersabar?

Rian kemudian menjadi tenang dan merasa pilihannya kali ini terbaik.

Rian beranjak pergi menuju rumah Bu Minah, di sana sudah ramai orang yang berdatangan. Suara isak tangis Bu Minah tidak terhentikan, satu persatu tangan mencoba menenangkan Bu Minah. Namun, tidak ada yang berhasil membujuk Bu Minah agar tenang. 

"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" batin Rian bingung. 

Rian melirik ke tubuh anak Bu Minah yang terbujur kaku dan ditutupi oleh kain sehingga Rian tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Rian mencoba menyelip masuk lebih dalam lagi agar lebih dekat dengan jasad anaknya Bu Minah. 

"Huh? Apa ini?" 

Rian menyadari ada sebuah kertas yang berada di dalam genggaman tangan anaknya Bu Minah. Kemudian Rian menarik secarik kertas tersebut. 

"Apa ini sebuah surat?" 

Kertas yang sudah remuk tersebut, ia coba rapikan agar bisa lebih mudah ia baca. 

"Teruntuk Ibuku? Ini untuk Bu Minah?" 

Rian tidak membaca isi suratnya lebih lanjut dan langsung memberikannya kepada Bu Minah. Tangis Bu Minah semakin terpecah menerima surat tersebut, surat yang berisi sebuah permintaan maaf dari anak tercintanya serta penderitaan besar yang dirasakannya selama ini

"Maafkan aku Ibu, aku sudah lelah karena selama ini selalu mencoba mengabulkan segala ekspektasi Ibu padaku. Aku hanya ingin hidup sederhana tanpa harus memikirkan apa yang orang lain katakan padaku. Segala kesombongan Ibu membuatku terjun ke dalam lembah yang tidak berujung, aku tidak bermaksud menyakiti Ibu. Tolong maafkan aku"

Pada akhirnya Rian mengerti, seseorang yang sukses dalam karirnya belum tentu ia bahagia. Seseorang yang memiliki mobil, harta berlimpah, dan rumah mewah, belum tentu mereka mendapat kenikmatan dari semua itu.

Bahagia tidak ditentukan oleh harta, namun ditentukan oleh seberapa besar rasa ikhlas dalam menjalani kehidupan yang dititipkan Tuhan kepada kita sebagai makhluk ciptaan-Nya.

***