Cerpen: Bunga Yang Menunggu Karya Ihya Nur

Bunga Yang Menunggu

Karya Ihya Nur

***

Udara dingin memeluk tubuh Dzul. Ia duduk tepat di belakang papan iklan LED yang membuat dirinya seperti menyala di tengah bangku di peron. Langkah kaki dan sapu yang beradu dengan lantai peron dari petugas bersih-bersih menjadi musik yang menemani Dzul di tengah kesunyian malam stasiun. Sambil duduk Dzul memain-mainkan kakinya seperti anak kecil yang sedang menunggu dijemput oleh orang tuanya. Tapi, Dzul tidak sedang menunggu dijemput, ia malah akan menjemput seseorang yang mungkin akan tiba beberapa menit ke depan.

Mata Dzul tertuju kepada sebuket bunga di samping tangannya. Ia tersenyum. Dzul sudah bisa membayangkan wajah calon penerima bunga ini. Pasti senyumnya akan sangat cantik, pikir Dzul.

Angin berhembus kencang, rambut Dzul menjadi sedikit berantakan. Sambil merapihkan kembali rambutnya, Dzul mengecek ponsel. Orang yang ditunggunya belum lagi membalas pesan yang dikirim Dzul sesaat sebelum Dzul masuk ke peron untuk menunggunya. Ah mungkin ia tertidur selama perjalanan, Dzul menenangkan hatinya sendiri.

Dzul sendiri tidak tinggal di dekat sana, ia pun datang dengan KRL itulah mengapa ia bisa masuk dan berada di dalam peron. Dzul ingin berjalan pulang bersama menaiki KRL berdua dengan orang yang ditunggunya ini. Setelah lama duduk di kereta antar kota, tentu akan lebih asik kalau di KRL bisa mengobrol berdua, inisiatif Dzul membawanya ke sini.

Suara sirine palang kereta beradu dengan desau mesin para pengendara di jalan. Akan ada kereta yang hendak lewat. Dzul berdiri dari kursinya dan berjalan maju ke arah rel. Ia menengok kanan, matanya menangkap kereta itu. Tapi itu bukan keretanya. Sedikit kecewa, Dzul hanya bisa menarik nafas dan kembali duduk di bangkunya.

*

"Dia ke sini lagi?" Tanya satpam yang menjaga penyebrangan antar peron sambil mengunci kembali palang dengan rantai.

"Iya, ini sudah hari ke tiga. Dua buket bunganya kemarin pun masih ada, sudah mengering dan membusuk di tempat sampah." Jawab tukang bersih-bersih yang bersiap pulang karena shift kerjanya sudah hampir usai.

"Ini sudah hampir tengah malam, tapi aku ga tega untuk memintanya pulang lagi. Dia selalu bilang dia sedang menunggu ibunya, tapi aku gak pernah liat," curah si satpam.

"Ya mau bagaimana. Dia dari tadi bolak-balik mendekati rel mengecek setiap kereta lewat dan nihil. Aku malah khawatir nanti dia akan tiba tiba menabrakkan diri. Lebih baik kau suruh dia pulang. Melihatnya berkali kali mengecek ponsel mati itu pun aku sudah sangat sedih, apalagi harus mendengar kabar matinya."

**

Dzul masih duduk di peron stasiun. Angin malam kian menusuk ke kulitnya seperti ribuan anak panah dingin yang membuat tubuhnya gigil. Ibunya belum lagi sampai, juga belum lagi membalas pesan yang dikiriminya. *

Jakarta, 2021