Cerpen: Kecil Sekali Keluarga Kami Karya Nafa Azizah.

Kecil Sekali Keluarga Kami

 Nafa Azizah

 

"Kenapa?"

Lagi, itu pertanyaan yang keluar dari mulut seorang pemuda yang berpenampilan ala kadarnya. Cukup kontras dengan lawan bicaranya yang menggunakan pakaian gaun mewah.

Bibir merah mudanya terangkat. Kepala yang penuh dengan rambut pirang itu sedikit tertunduk. Tak merasa jijik saat meraih tangan kotor sang pemuda. Suara lembutnya kini terdengar, "Sudah kubilang. Tak usah memikirkan hal yang berat, Nichol. Kau hanya tinggal berkata 'iya' dan semuanya akan mudah. Bagiku dan bagimu."

Pemuda berambut hitam itu berdiri atas bantuan sang putri. Ya, putri. Setidaknya begitulah Nichol menyebutnya. Penampilannya yang luar biasa tentu memperjelasnya.

"Tapi, aku hanya–"

"Sst! Kau dengar itu?" Sang gadis cepat membungkam mulutnya. Matanya melayang tajam ke arah balik dinding di tempatnya bersandar.

Suasana tiba-tiba mencengkam. Gang sempit dengan sedikit penerangan itu hening. Hanya beberapa suara barang tak penting yang mengiringi. Nichol ingin sekali bertanya lagi, tapi sorot serius dari mata biru itu membuatnya urung.

"Ha!"

Suara gadis itu tiba-tiba tercekat. Tangannya yang satu menutup mulutnya. Tubuhnya bergetar, Nichol tahu itu. Diliriknya ke arah depan gang. Mencoba mencari tahu apa yang membuat sang gadis yang tadi begitu percaya diri menjadi setakut ini.

Bola mata merahnya melebar. Di sana, terdapat seekor anjing dengan kepala tiga, Chereberus. Salah satu hewan peliharaan musuh. Sepertinya hewan itu masih belum menemukan mereka. Terbukti ketiga kepala itu masih menoleh dan mengendus bau ke arah mana pun.

Kepala Nichol mencoba berpikir. Kalau begini terus, mereka bisa ketahuan. Terlebih bau Nichol sangat menyengat akibat dirinya yang jarang mandi. Dilepaskannya tangan yang membungkam mulutnya tadi. Nichol lantas menyobek baju miliknya dan menaruh batu di tengahnya. Lantas, pemuda itu melemparkannya melewati anjing tadi.

Berhasil. Anjing itu teralihkan dan mulai berlari mendekati batu yang dia lempar tadi.

"Ayo!" ajaknya dengan lirih. Sembari berharap sang anjing atau siapapun tak mendengarnya.

Di saat seperti ini, Nichol justru teringat tentang kisahnya. Seorang anak yang hidup melalang buana, sendirian tanpa nama. Bahkan, bahasa pun tak ada yang memberitahukannya. Nichol hanya pernah diberikan pelajaran kilas oleh seorang yang berbaik hati. Meskipun hanya beberapa waktu saja.

"Pak Thomas nggak datang, kah?" Itu suara anak gadis yang memiliki nasib sama sepertinya.

"Padahal aku mau tanya soal perhitungan kemarin," imbuh seorang anak lelaki yang jauh lebih muda dibandingkan Nichol dengan mata mengitari sekitar gang. Mencari sosok Pak Thomas yang biasa datang di pagi hari.

Nichol tak sendiri memang. Namun, dia terasingkan. Kelompok anak-anak terlantar itu menjauh darinya. Untuk alasan yang tak dia ketahui. Nichol merasa matahari sudah cukup terik. Jika terlalu lama, dia bisa lupa mencari makan. Tanpa pamit, dia pergi dari gang sempit itu menuju ke arah tempat sampah. Mencari sepotong roti basi yang bisa mengganjal perutnya nanti.

Tidak ada kata jijik saat tangan itu mengais sampah demi sampah. Memisahkan antara yang bisa dijual atau tidak. Hidung sang anak sudah tak berfungsi agaknya. Bau menyengat di sekitarnya seolah bukan hal yang perlu dipedulikan.

"Hmm. Sepertinya ini masih bisa dimakan," bisik Nichol pada dirinya sendiri. Menaruh sebuah roti isi yang sebenarnya sudah berjamur. Namun, Nichol tetap menyimpannya setelah membuang bagian yang ditempeli jamur tersebut.

Setelahnya, Nichol beranjak dari sana. Mengumpulkan barang yang dia bawa ke tempat penjualan. Hasilnya memang tak seberapa, tapi setidaknya dia bisa mendapatkan cuan dengan hasil keringatnya sendiri.

"Papa, di sini kotor banget! Aku mau pulang!" rengek seorang anak kecil yang membuat Nichol menoleh heran.

"Iya, Nak. Papa tahu. Tapi, Papa ada urusan sebentar saja di sini. Dan, Papa butuh bantuanmu. Sebentar saja, ya? Papa janji ini yang terakhir."

Mata sang anak itu nampak menyelidik. Seolah tak mempercayai senyuman milik pria yang dia sebut papanya itu. Meski merengut, gadis itu mengangguk dan kembali berjalan. Mata birunya menangkap seorang anak lelaki yang seumuran dengannya.

Dunia mereka seolah terhenti beberapa saat. Untuk pertama kalinya, Nichol bertatapan dengan seseorang dengan begitu lama. Apalagi dengan status miliknya, pasti bukan orang biasa yang bisa menggunakan tiara di kepalanya.

Sang gadis kecil itu memutuskan pandangannya dengan tatapan sinis. Nichol yang menyadari perbuatannya lantas merunduk malu.

"Pokoknya, kalau Papa nggak mau beliin aku boneka kucing, aku bakal ngambek!"

Kalimat terakhir dari sang gadis terdengar di telinga Nichol. Hatinya tiba-tiba terasa nyeri. Ya, anak kecil itu merasa iri dengannya. Tiba-tiba, bayangan sosok ayah melintas di pikirannya. Jika Nichol memiliki ayah, apakah hidupnya kan berubah? Jika dia memiliki keluarga, apakah dia bisa jauh lebih baik?

"Haha, mikir apa aku, sih. Kayak tahu aja apa itu keluarga."

Nichol menggeleng pelan lantas kembali ke rumahnya. Ah, bukan. Hanya tempat peristirahatan. Tepat di pinggir jalan, bersama orang-orang yang bernasib sama sepertinya. Namun, mereka tak sendiri.

"Mama, aku lapar."

"Sebentar, ya. Pasti Papa pulang bawa sesuatu untuk kita."

Hati Nichol melengos. Percakapan antar ibu dan anak yang berada di depannya kembali menimbulkan sebuah rasa. Rasa yang menyerang batinnya kembali. Memutar pertanyaan yang sama setiap saat.

"Kenapa aku dibuang? Siapa dan ke mana orang tuaku?"

Pertanyaan itu terus memutar di pikirannya hingga rasa kantuk mengambil alih tubuhnya yang meringkuk di atas kardus tanpa ada kehangatan selehai kain pun. Hanya ada bajunya yang sudah compang-camping. Lagi-lagi, Nichol tidur dengan kedinginan malam ini.

Pagi harinya, seperti biasa Nichol pergi menuju gang di mana dia bisa bertemu dengan Pak Thomas. Meski terasa ganjal karena Pak Thomas tak pernah absen sebelumnya, Nichol tetap melangkahkan kaki. Mungkin memang sedang ada urusan, pikirnya.

"Hmm? Ini bukannya boneka milik Lucy?" tanyanya saat tak sengaja menginjak sebuah boneka panda yang kumuh. Boneka yang dia ketahui milik salah seorang anak-anak di sana.

Nichol tahu, Lucy amat menyayangi boneka itu –terlihat saat gadis itu tak pernah melepaskannya–. Akhirnya, Nichol memungut boneka itu sebelum berbelok masuk ke dalam gang.

Namun, boneka itu kembali terjatuh. Tubuh Nichol sontak menegang, mata merahnya membulat tak percaya. Pemandangan di depannya bukanlah pemandangan sebuah gang. Terlihat sebuah lingkaran besar yang memakan kedua gedung besar yang mengampit gang tersebut. Gang itu kini menjadi lebih luas.

Itu bukan berita yang menyenangkan tentunya.

Nichol melangkah dengan kaki gemetaran. Melihat sisa-sisa pembakaran yang jelas dari sebuah sihir. Tak ada hal mustahil dilakukan kecuali dengan sihir. Nichol bahkan merasakan bekas mana –sumber sihir– di sana.

"Ha!"

Langkah Nichol terhempas atau lebih tepatnya, dia menjatuhkan dirinya ke belakang. Matanya melotot lebar saat melihat sebuah tangan hitam menjulang diantara bongkahan gedung.

Tangannya menompang tubuhnya dari belakang. Namun, dia justru tak sengaja menyentuh sesuatu yang rapuh. Kaget, Nichol langsung mengangkat tangan kanannya itu dan menoleh.

Perut mungilnya refleks memuntahkan isinya. Padahal Nichol hanya makan sepotong roti yang dia dapat kemarin. Namun, mulutnya terus mengeluarkan sesuatu. Matanya ikut berair karenanya. Semua ini salah sebuah tubuh hitam mungil yang hancur saat tak sengaja dia sentuh. Berubah menjadi abu hitam sama seperti yang lainnya.

Jantung Nichol berdetak tak karuan. Kaki dan tubuhnya lemas seketika. Ia tak memiliki tenaga untuk bergerak pergi dari sana meskipun dia mau.

"Cih! Papa penipu! Biar saja sekarang dia mencari-cariku. Palingan cuma buat dimanfaatkan lagi!"

Telinga Nichol yang awalnya berdengung kini mulai bisa menangkap suara. Terbukti celotehan seorang anak perempuan mampu dia dengar. Sebuah sepatu kaca yang tertutup gaun merah berada di jarak pandang Nichol. Membuatnya mendongak ke atas.

Gadis itu nampak heran. Namun, alisnya tetap saja menukik kesal entah karena apa. Nada bicaranya pun menjadi sengak. "Apa-apaan kamu? Ngapain muntah di sini, iih! Jorok banget!" katanya mundur beberapa langkah dan mengambil sapu tangan.

Nichol kembali merunduk, tak menggubris perkataannya barusan. Jiwa anak kecil itu masih terguncang.

"Tunggu, jangan bilang kau anak didik Paman Thomas juga? Kok masih hidup, sih?! Kau berhasil melarikan diri, ya?" Anak gadis itu kembali mendekat dengan menutup hidungnya dengan sapu tangan tadi.

Nichol tetap tak bergeming, membuat urat kemarahan sang gadis membesar. "Kalau ada yang tanya itu dijawab!"

Kakinya menendang tepat di dagu Nichol. Tubuhnya yang lemah dan mungil cepat terlempar ke belakang. Bahkan, gadis kecil itu masih memaki-makinya walau tubuh Nichol sudah beberapa meter jaraknya.

Nichol merasakan tubuhnya remuk. Getaran kesakitan nampak jelas di tubuhnya. Kali ini ia tak bisa bergerak karena rasa sakit yang luar biasa. Nichol masih bisa mendengar celoteh sang gadis yang justru menampakkan kakinya di kepala.

"Nah, sekarang jawab pertanyaannku! Kenapa kau bisa selamat?!" tanya sang gadis sambil menekan kakinya.

Nichol meringis kesakitan, tapi dia harus segera menjawab, sebelum rasa sakitnya semakin menjadi-jadi. Mulutnya terbuka sedikit dan mulai mengeluarkan suara, "Ke … Kemarin a … aku ke sini hanya sebentar. A … aku pergi mencari makan saat tahu Pak Thomas terlambat," lirihnya tak berdaya lagi.

Beruntungnya sang gadis lalu mengangkat kakinya dan meletakkannya ke tanah. Nampaknya dia sedang berpikir apakah Nichol mengatakan kejujuran atau kebohongan.

"Oh! Aku ingat!" katanya tiba-tiba. "Kau yang kemarin, bukan? Bocah kumuh yang menatapku tanpa berkedip. Pantas saja kau masih selamat."

Nichol terbatuk sebelum mendongakan kepala. Benar, dia gadis yang kemarin. Rambut pirang dengan hiasan tiara itulah yang menarik perhatiannya. Nichol tak mungkin melupakannya.

Gadis itu mengigit jari gelisah. "Aduh, kalau Papa tahu, pasti aku akan dihukum! Apa kubunuh sekarang saja, ya?" gumamnya.

"A … Apa kau …." Dengan sisa-sisa tenaga dan dorongan entah dari mana, Nichol menegakkan lututnya, "Apa kau yang membunuh mereka semua?"

"Iya."

Jawaban gadis itu begitu singkat dan membuat Nichol tertegun. Namun, dia tetap bertanya, "Kenapa?"

"Kau tak tahu siapa Paman Thomas sebenarnya?" Nichol tak menjawab. Setahunya, Pak Thomas adalah pria yang baik. Gadis itu melanjutkan dengan tangan melipat di depan dada, "Dia adalah pengguna sihir hitam. Paman Thomas sengaja mendekat pada anak-anak untuk diberikan sihir hitam sebagai uji cobanya. Sihir hitam itu terlarang di negeri ini, makanya aku musnahkan mereka. Jika tubuh seseorang sudah terdapat sihir hitam, dia akan berubah menjadi monster. Cepat atau lambat."

"Tak mungkin! Kau pasti berbohong! Pak Thomas adalah orang yang baik! Beliau …. beliau adalah ayah bagi kami," elak Nichol dengan nada rendah di akhir kalimatnya.

"Tapi, dia pernah memberimu suatu air yang tak kau ketahui namanya, bukan? Yang memiliki rasa seasam lemon dan memiliki warna sehitam arang? Itulah sihir hitamnya."

Jantung Nichol berdetak kencang. Syaraf memorinya dengan paksa menampilkan ingatan tentang hari itu. Seminggu setelah pertemuannya dengan Pak Thomas. Apa yang dikatakan gadis itu adalah hal yang tak bisa dia bantah.

"Kemarin, saat kau pergi. Anak-anak malang itu berubah menjadi monster. Mungkin aku cepat memusnahkan sebagian besar dari mereka. Namun, beberapa berhasil lolos dan melarikan diri ke kota. Mungkin kau tak tahu, tapi kekacauan itu memang terjadi. Memangnya kau tak melihat asap hitam yang memenuhi kota kemarin? Bahkan hari ini saja asapnya masih terasa." Sang gadis mendongak. Menatap sisa-sisa pertempuran hebat kemarin.

Gadis kecil itu tiba-tiba tersentak, teringat sesuatu. "Tunggu, kenapa kau tak berubah? Harusnya kau sudah menjadi monster! Tapi-tapi kenapa kau …?"

Nichol menatapnya bingung saat tangan sang gadis meraih kerahnya. Gadis itu lantas menutup matanya. Nichol terkejut saat melihat lingkaran sihir berada di bawahnya. Sinar putih yang terpancar adalah hal yang baru dia lihat. Biasanya sihir hanya memiliki warna primer.

"Tidak ada!" Gadis itu selesai merapal mantra, lingkaran sihir miliknya menghilang saat dia membuka mata. Kembali dia memajukan tubuh ke arah Nichol sambil bertanya, "Kau anak didik Paman Thomas, bukan? Kenapa tidak ada sisa sihir hitam di tubuhmu? Apa yang terjadi?!"

Tanda tanya di wajah Nichol semakin besar. Jika gadis itu saja tak tahu, apa lagi dirinya?

"Bisa melenyapkan sihir hitam? Memangnya pernah ada? Bukankah itu mustahil? Tapi, sepertinya aku pernah mendengarnya, tapi dimana?" gumam sang gadis memangku dagunya, berpikir. Kadang dia memukul kepalanya sendiri karena memorinya yang tak seberapa.

"Aduh!" Nichol nampaknya lupa jika tubuhnya sedang babak belur. Tangannya memegangi lengan tangan yang lain sambil menahan rasa sakit.

"Api Suci."

Nichol kembali menatap ke arah sang gadis yang tiba-tiba menatapnya dengan serius. Telapak tangan sang gadis mengeluarkan lingkaran sihir lagi. Dari lingkaran sihir itulah keluar sebuah api berwarna putih yang menyembur ke arahnya.

Refleks, Nichol menutup matanya. Berharap tak mendapatkan rasa sakit lagi. Atau justru dia akan mati sekarang?

Saat Nichol membuka mata, bukan akhirat yang di lihat. Melainkan wajah berbinar dari sang gadis yang langsung berteriak histeris. Nichol semakin tak mengerti, di mana sihirnya tadi?

"Hebat! Kau hebat! Kau tahu apa yang terjadi tadi?!" tanya sang gadis setengah berteriak, "Kau memakan sihirnya! Setahuku, orang sepertimu hanyalah legenda, tapi ternyata memang benar adanya. Pantas saja kau tak berubah menjadi monster. Karena tubuhmu memakan semuanya. Kau adalah Pemakan Sihir! Astaga, tak kusangka orang sepertimu justru berada di sini. Apa keluargamu membuangmu?"

"A … Aku tak tahu. Ingatan pertamaku adalah tanah yang gersang dan udara yang dingin. Aku sama sekali tak ingat siapa keluargaku." Nichol tertunduk, ada rasa yang sedikit sesak saat membahas masa lalunya.

"Kalau begitu, kau ingin membuat Familia denganku?"

"Familia?"

"Iya, Familia! Sejak dulu, penyihir membuat kelompok sendiri untuk bertahan hidup. Kami saling menompang dan membantu satu sama lain. Di bawah nama yang sama, kami juga saling bersaing dengan Familia yang lain. Bagaimana?" tawar sang gadis sembari memperlihatkan emblem di tiaranya. Sebuah simbol dari keluarga yang dia naungi.

"Kau memintaku untuk ikut ke keluargamu? Memangnya keluargamu akan menerimaku? Aku kan hanya–"

"Bukan!" Gadis itu memotong dengan cepat, "Kita membuat Familia sendiri. Familia kita sendiri. Dari aku dan kau, serta nanti orang-orang yang kita pilih."

"Terus, keluargamu bagaimana?"

Tiba-tiba, raut wajah sang gadis tertekuk kesal. Seolah tak ingin membahasnya, dia kembali menawari pada Nichol. Namun, Nichol tetap ragu melakukannya.

"Nama yang bagus apa, ya? Blacky? Jack? Oh! Alexavier. Sang pelindung rumah, bagaimana? Ngomong-ngomong, siapa namamu?" tanya sang gadis mengabaikan penolakan dari Nichol.

"Nicholas."

Sang gadis cepat menarik tangan Nichol dan menjabat tangannya. "Namaku Nafa. Salam kenal, Nicholas Alexavier!"

Pyar!

Emblem di tiara Nafa pecah ketika mereka berhasil menjabat tangan. Nafa begitu santai melihatnya dan melepas tiara tersebut. Membuangnya asal, seakan itu barang yang tak berguna. Hanya Nichol yang terkejut melihatnya. Bukankah gadis itu bilang emblem itu tanda dari keluarga miliknya?

"Aku 'kan sudah pindah marga. Makanya emblem itu hancur. Ah, berarti kita harus segara membuat emblem yang baru," kata Nafa santai.

"Tunggu! Aku bahkan belum setuju dengan hal ini semu– agh!"

Nichol tersungkur, terlupa akan tubuhnya yang sedang terluka parah. Nafa pun mulai menggerutuinya. Meskipun begitu, gadis itu tetap menyembuhkan luka milik Nichol dengan sihir miliknya.

"Lho? Kok nggak bisa? Astaga, aku lupa kau pemakan sihir. Tentu saja sihirku tidak bekerja. Agh! Sekarang kita harus cari rumah sakit!" titah Nafa cepat membopong Nichol di punggungnya. Nichol yang sudah tak memiliki tenaga, hanya terdiam hingga mereka sampai di rumah sakit.

Nichol pingsan hingga beberapa hari lamanya. Selama itulah, Nafa berada di sampingnya. Bukan khawatir, tapi berjaga-jaga. Emblemnya yang pecah kemarin adalah tanda jika dia keluar dari keluarganya dulu. Sekarang, pasti mereka kelimpungan mencarinya.

"Tak kusangka kau akan keluar dari keluarga itu. Bukankah itu keluarga terbesar di negeri ini? Kau bodoh, ya?"

Nafa melipat dahinya kesal saat melihat sesosok gadis berpenampilan seperti dokter. Masalah keluarganya dulu memang membuatnya kesal. Namun, bisakah dia tak membodohinya? Nafa sama sekali tak merasa menyesal dengan pilihannya.

"Aku justru akan semakin bodoh jika terus di keluarga gila itu. Memangnya kau tak tahu mereka seperti apa, Lucy?"

Lucy mengangkat bahu. Dia tahu, siapa juga yang tak tahu keluarga tersohor itu.

"Ehm. Aku di mana?"

Perhatian Nafa teralihkan pada Nichol yang sedang membuka matanya. Tersenyum senang hingga memeluk tubuh pria kecil itu. Setelah dua hari di rawat, Nichol diizinkan untuk pulang.

"Tapi, kita belum punya rumah, ya? Selama ini kau tinggal di mana?"

Nichol menunjuk sebuah gang. Sembari menjelaskan jika dia bisa tidur di mana saja. Bisa mendapatkan sebuah alas untuk tidur saja sudah suatu keberuntungan. Meski awalnya ragu, Nafa mengikuti arah perginya Nichol. Toh, dia sudah tak punya apa-apa lagi.

"Kenapa?" tanya Nichol tiba-tiba, "Kenapa aku? Kau bisa mengajak orang lain untuk membuat Familia atau apalah itu, bukan?"

Nafa tersenyum santai. Kembali mengatakan alasan yang sama. Dia hanya ingin membuat keluarga. "Bukankah kau juga ingin keluarga, Nichol?"

Itulah kali terakhir mereka bercakap sebelum akhirnya mereka lari menghindari Chereberus yang tentunya utusan dari keluarga Nafa yang sebelumnya. Setelah menemukan tempat yang aman, mereka mengatur napasnya. Meski mulut Nafa tak lepas dari sumpah serapah.

"Kenapa keluargamu mencari-cari sampai seperti ini?"

Nafa menghela napas dan menjawabnya ketus, "Hah! Aku kan anak yang paling mudah dimanfaatkan. Mana mungkin kau melepas anjing yang berguna, bukan?"

Nichol menegakkan punggung. Dia memang tak tahu menahu tentang keluarga. Namun, meremehkan kata keluarga di depan mereka yang tak pernah memilikinya adalah hal yang kurang ajar. Dan sialnya, Nichol mulai sekarang menjadi keluarga seseorang yang kurang ajar itu.

"Sebenarnya kau punya masalah apa sih, sama keluargamu? Sampai-sampai kau mati-matian keluar dari sana. Kau tak bersyukur apa gimana? Banyak dari kita yang bingung mencari keluarga. Sedangkan kau … kau …." Nichol merunduk. Sejak kapan dia lepas kendali seperti ini?

"Mereka bukan keluarga. Jika memang keluarga, tak mungkin mereka memperlakukanku seperti ini, hiks."

Nichol kelabakan saat mendapati sang gadis yang terduduk sambil mengusap sudut matanya. Seketika, dia menyesali perkataannya barusan.

Nafa mengangkat kepala dengan lengan masih menutupi kedua matanya. Berusaha tetap tegar dan mulai bercerita, "Kau ingat papaku? Dialah kepala keluarga atau Pimpinan Familia kami. Punya banyak mana dan kekuatan sihir yang luar biasa. Namun, Papa orang yang gila hormat. Dia akan melakukan apapun untuk mendapatkannya. Seperti memaksa putrinya melakukan pembersihan."

"Pembersihan?"

"Iya. Sihiku adalah sihir putih, kesucian. Aku bisa menetralkan sihir gelap dan menyembuhkan. Papa selalu memberiku pekerjaan dengan iming-iming hadiah. Tapi, dia selalu ingkar janji saat aku ingin liburan. Setiap hari aku selalu dipaksa bekerja. Bahkan, karena langkanya sihirku. Aku dijadikan kelinci percobaan di keluargaku sendiri. Keluarga yang lain justru menyudutkanku. Karena iri dengan kelebihanku, anak-anak yang sepantaran denganku semuanya menjauh. Itu yang kau sebut keluarga, Nichol?"

Nichol tertegun melihat senyum diakhir kalimat Nafa.

Nafa kembali melanjutkan, "Mereka hanyalah sekelompok orang yang sedarah. Keluarga bukan yang seperti itu."

"Lantas, keluarga itu seperti apa?"

Nafa mengusap sudut matanya. Menoleh ke arah Nichol yang sedang melihat ke arahnya. Tersenyum lebar, seolah melupakan apa yang dia tangisi.

"Seperti kita, Nichol."

Nichol merasa dongkol sekarang. Entah dia yang terlalu bodoh atau Nafa yang terlalu aneh dalam menjelaskan. Namun, anehnya Nichol tak bertanya lagi. Padahal, dia masih tak mengerti.

"Ayo, kita harus mencari tempat untuk tidur malam ini."

"Meow!"

Nichol menghentikan langkah, menatap lurus ke arah kucing hitam yang mengeong ke arahnya. Belum sempat bereaksi, Nafa menyerobot duluan.

"Kucing! Astaga, apa kau lapar? Ini aku masih punya beberapa makanan. Ayo, makanlah!" cerca gadis itu seraya membuka kotak bekalnya. Mengelus perlahan puncak kepala kucing yang sedang makan itu.

"Nichol," panggil Nafa. "Adopsi dia, yuk!"

"Adopsi? Kita bahkan tak memiliki tempat tinggal. Bagaiman–"

"Ish! Kau terlalu banyak berpikir. Ayo, Blacky." Nafa mengambil kucing yang sudah selesai makan itu dalam gendongannya. Masa bodoh dengan Nichol yang tergeming sejenak memikirkan betapa sembrononya dia.

Gadis itu terlalu cuek dan naif. Seharusnya Nichol sadar akan hal itu sejak awal.

"Bagaimana kalau Blacky jadi anggota keluarga?"

Nichol menoleh heran, "Memangnya bisa? Dia kan kucing."

"Boleh aja kok! Lagipula, Blacky punya mana. Jadi, dia sudah masuk persyaratan." Penjelasan Nafa hanya membuat Nichol menghela napas. Percuma juga melarangnya. Namun, Nichol teringat sesuatu. Kucing itu punya mana? Jadi, Blacky bahkan lebih baik dibandingkan dirinya?

"Namamu sekarang Blacky Alexavier. Walau kita belum ada emblem, jangan sampai kau lupa, ya!" kata Nafa kucing hitam itu.

"Itu dia!"

Mereka sudah sampai di paling ujung gang. Terlalu banyak bersantai membuat Nafa dan Nichol lupa jika sekarang mereka adalah buronan. Di jalan raya, terlihat banyak penyihir yang siap dengan tongkat sihir mereka. Setelah seseorang berteriak, seluruh perhatian terpusat ke arah keduanya. Nichol dengan cepat menggenggam tangan Nafa dan berbalik arah. Mereka harus kabur!

"Mau ke mana, kalian? Haha!"

"Kami tak akan membiarkan kalian lolos begitu saja."

Sial, mereka justru terjebak dalam gang. Tempat yang sempit memudahkan para penyihir itu mengepung mereka. Nichol kehabisan ide, tidak ada celah untuk kabur.

"Kami tak butuh izin kalian untuk pergi. Ayo lakukan, Blacky!" teriak Nafa melepaskan kucing itu yang langsung berubah menjadi kucing besar yang memiliki sayap.

Para penyihir yang melihatnya sontak membelakkan mata. Blacky menggeram sebentar sebelum mencakar tubuh penyihir yang membeku.

"Nichol!"

Setelah mendapatkan celah, Nafa menarik Nichol yang ikut terkejut ke punggung Blacky. Si kucing besar itu lantas mengambil ancang-ancang sebelum terbang dan menghempaskan penyihir yang tersisa dengan sayapnya.

Namun, berada di langit tak membuat mereka aman. Posisi mereka justru diketahui hanyak orang. Terbukti beberapa dari penyihir itu merapalkan mantra ke langit. Nafa dan Nichol harus menyusun rencana lain.

Nafa yang duduk di depan Nichol menunjuk ke arah depan. "Blacky, ke hutan!" titahnya yang tak perlu menunggu persetujuan dari Blacky. Kucing itu langsung melesat menuju hutan belantara di pinggir kota.

Hutan yang penuh dengan pohon-pohon tinggi yang menjulang. Memudahkan Blacky untuk disembunyikan. Saat mereka menyentuh tanah, Blacky berubah kembali menjadi kucing biasa.

Nafa mengelus puncak kepalanya sambil memuji tindakan Blacky.

"Meteor Api!"

Nichol yang sedang mengatur napas menoleh dengan cepat. Dia terlambat, sebuah sihir yang mengeluarkan bola api raksasa melesat ke arahnya. Sosok penyihir yang bersembunyi di balik pohon menyeringai.

Nafa juga sama terkejutnya. Saat sihir itu menghilang, saat itulah penyihir merasa cengo. Nichol masih berdiri dengan utuh.

"Eh? Kenapa? Tadi termasuk sihir tinggi, lho!" protesnya tak terima. Sedangkan Nichol merasa beruntung karena kemampuan Pemakan Sihirnya.

Berbeda dengan Nafa yang sudah mengepalkan tangan. Giginya bergeletuk, menguarkan kemarahan yang membuatnya sedikit berapi.

"Beraninya kau menyerang Nichol, keluargaku. Kau akan membayarnya! Cahaya Penghakiman!"

Tanpa aba-aba, Nafa mengeluarkan lingkaran sihir di atas penyihir tadi. Lalu, keluarlah tombak-tombak cahaya yang langsung menusuk sang penyihir hingga tewas. Nichol hanya mampu meringis kasihan dan menutup mata.

Kegaduhan itu memancing perhatian penyihir lainnya yang ternyata sudah berbondong-bondong ke hutan. Nichol dan Nafa kembali melarikan diri. Menghindari sekecil mungkin pertempuran.

"Kau mau ke mana, Nafa Scarlett?"

Suara itu, suara berat yang pernah Nichol dengar dan sangat Nafa kenali. Sesosok pria berdiri di depan mereka. Menghambat upaya melarikan diri mereka. Para penyihir lainnya pun sudah mengepung mereka.

Nafa tersenyum miring, "Maaf aku tak tahu siapa yang kau panggil. Namaku sudah bukan Scarlett lagi."

Papa Nafa mencoba menahan amarahnya. Kalau bukan karena sihir langka Nafa, tak mungkin dia akan mengadakan sayembara untuk menangkap putrinya itu.

"Jangan bercanda, Nafa. Meski emblemmu hancur, kau tetaplah keluarga Scarlett. Maka dari itu, ayo pulang," ajaknya.

"Hah! Pulang ke mana? Aku sudah di rumahku. Aku sudah memiliki keluarga. Aku tak pernah sudi menganggap kalian keluarga!" decih Nafa menunjuk papanya tanpa dosa.

Papa Nafa menghela napas, kesabarannya sudah habis. Saatnya memberikan pelajaran kecil pada putrinya.

"Baiklah. Kalau begitu, kau akan kubawa paksa, Nafa!" teriaknya langsung melesat mendekati sang putri.

"Tameng Cahaya!" Nafa dengan sigap mengeluarkan sihir dan menahan serangan brutal sang ayah. Nafa tahu pasti, pria tua itu tak perlu mengeluarkan sihir untuk melawannya. Kekuatannya yang besar membuatnya mudah memainkan pedang tanpa bantuan mana.

Namun, sihirnya tak cukup kuat. Perlindungan itu hancur dan Nafa terhempas ke belakang.

"Nafa!"

"Stop, Nichol!"

Langkah Nichol terhenti. Nafa mencoba mendirikan tubuhnya sambil melepahkan darah. Tersenyum miring seolah dia masih memiliki kesempatan untuk menang.

"Papa tak menggunakan sihir. Itu tandanya dia bisa menyerangmu. Kau urusi saja penyihir yang lain!" kata Nafa kembali berlari mendekati sang ayah.

Meski tak tega, Nichol tetap menuruti perintah Nafa. Dia bersama Blacky berhadapan dengan kerumunan penyihir itu. Para penyihir itu tentu tersenyum remeh. Tubuh Nichol yang kurus dan terlihat lebih lemah membuat mereka lengah.

Terkejutnya mereka saat Nichol masih bisa berdiri meski diserang dengan sihir berkali-kali. Nichol tak menyia-nyiakan kesempatan, dengan cepat pemuda itu berlari mendekat dan memberikan serangan fisik pada mereka.

"Penyihir itu orang yang sombong. Mereka hanya sibuk melatih sihir. Itu artinya, secara fisik mereka lemah. Kau bisa memanfaatkan kekurangan mereka. Langsung buat pingsan! Kalau terluka sama saja, ingat mereka punya sihir! Keajaiban diluar nalar manusia!"

Nichol teringat pesan Nafa setelah mereka keluar dari rumah sakit. Memberikan bebarapa kelemahan penyihir, termasuk perihal ketahanan fisik. Meski tak memiliki kemampuan bela diri yang mumpuni, Nichol masihlah unggul dibandingkan mereka.

"Blacky!" panggilnya saat situasi mulai membuatnya terdesak. Kucing itu tak mengubah tubuhnya, tapi cakaran dan gigitan miliknya cukup membuat penyihir itu tumbang.

Nichol tersenyum miring, ini pertarungan pertamanya. Terasa menyenangkan dan mudah.

"Aaa!"

Mendengar teriakan itu, Nichol menoleh cepat. Kedua matanya terbelalak, jantungnya terasa terhenti seketika. Di sana, Nafa kehilangan salah satu kakinya karena ulah sang ayah. Tak berhenti di sana, Papa Nafa juga menghempaskan tubuh putrinya hingga menembus beberapa batang pohon.

Nichol yang kalap langsung berlari mendekat. Menyandarkan tubuh Nafa di salah satu lengannya. Mulutnya bergetar, tak tahu harus melakukan apa. Tubuh Nafa penuh luka, lebih parah dibandingkan tubuh Nichol yang terluka beberapa waktu yang lalu.

"Ni … Chol …."

Tangan itu mencoba menyentuh wajah Nichol. Meski tatapan matanya tak sepenuhnya terbuka, Nafa memaksakan bibirnya untuk tersenyum. Mulut kecilnya kembali berkata, "Maafkan aku."

Setelah itu, tangan Nafa terjatuh. Tatapan itu sepenuhnya tertutup dengan bibir yang masih menarik garis lengkung. Telinga Nichol berdengung, suara langkah kaki Papa Nafa pun tak dia hiraukan.

Nichol merasakan gejolak dalam dirinya. Seolah sesuatu yang telah lama terpendam akan meledak. Benar saja, tubuhnya tiba-tiba mengeluarkan asap hitam. Semua sihir yang pernah dia makan, keluar begitu saja.

"Apa ini? Sihir hitam?! Kenapa bocah itu punya sihir ini?!" kejut Papa Nafa menutup hidungnya agar tak menghisap lebih banyak kempulan asap misterius itu.

"Aku tak pernah memiliki keluarga sebelumnya." Tatapan Papa Nafa teralihkan, "Untuk pertama kalinya, ada seseorang yang mau mengulurkan tangan dan menyambutku sebagai keluarga. Kami hanya berdua– ah, tidak. Bertiga. Bahkan terlalu kecil untuk disebut keluarga. Meski kami masih asing, sayangnya, aku tetap tak bisa memaafkan kalian jika menyentuh keluargaku!"

Nichol berteriak murka, asap-asap hitam itu bergerak cepat. Membawa sihir-sihir miliknya dan mulai menyerang secara brutal. Tanpa mana, tanpa lingkaran sihir, Nichol mampu menggunakan sesuatu yang mereka sebut keajaiban. Orang-orang di sana tak sempat melarikan diri, mereka semua tewas seketika. Termasuk Papa Nafa.

Hutan itu seolah digunduli. Semua pohon hilang dan hanya menyisakan sebuah tanah lapang. Hanya tersisa satu pohon, tempat Nafa berbaring. Blacky dengan sabar menjaga Nafa di sampingnya.

Nichol berjalan ke arah keluarganya. Menatap sendu sosok gadis yang masih menutup mata. Tangannya terulur, dengan cepat dia meraih tubuh itu dan menggendongnya. Kakinya melangkah pelan pergi dari tempat itu.

"Jangan khawatir, Blacky. Nafa akan bangun dan kita akan tetap menjadi keluarga Alexavier."

Selesai.

 

Nafa Azizah adalah nama pena yang disandang oleh gadis kelahiran Jawa Tengah ini. Orang-orang di sekitarnya sering menyebutnya alien. Namun, alien yang satu ini lebih memilih menjajah manusia melalui karya-karyanya. Karyanya bisa dilihat di akun Wattpad @nafazizah dan Instragram @nafazizah12