THE POWER OF HUMANITY

31 tahun hidup, saya tidak pernah menyangka akan pernah membantu seorang anak untuk melanjutkan mimpinya dan membuka jalan untuk masa depannya. Oh, saya bahkan cuma remah remah di perusahaan tempat saya bekerja – seorang karyawan swasta biasa non C-level, bagaimana bisa membantu masa depan orang lain?

Januari 2021 lalu saya masih stay at home sebagai korban dampak  puncak pandemi COVID 19. Sama seperti orang orang lainnya rehat dari berbagai aktivitas luar rumah bahkan aktivitas ke kantor. Saat ketua RBS, Kak Vika tiba-tiba  menghubungi saya menawarkan apakah saya mau bergabung dengan tim “Project Menuntut Ilmu”.

Sebuah project dari Rumah Belajar Senen (RBS) yang dibentuk untuk membantu anak-anak warga Senen yang putus sekolah (oh, saya bahkan tidak tahu kalau lumayan banyak dari anak-anak di daerah Senen yang putus sekolah. I mean, itu kan ,Senen, Jakarta Pusat, tengah Jakarta. Saya rasa tidak akan ada anak putus sekolah di Jakarta Pusat dimana akses informasi sangat mudah didapat dan lebih aware dengan pendidikan dibanding hidup di remote área yang jauh dari perkotaan – but I was wrong. Kenyataannya ada, well, mungkin bahkan lebih banyak dari yang saya notice saat ini T.T).

Long story short, saya memutuskan bergabung dan ditugaskan membantu salah satu anak, sebut saja X. Ternyata X sudah putus sekolah sejak kelas 3 SD dan seharusnya saat ini día sudah berada di kelas 5. Blank? Tentu saja. Saya tidak tahu harus mulai dari mana karena saya bahkan belum menikah! Boro boro punya anak yang mau didaftarkan SD, tapi, ya, begitulah tugasnya: saya harus mendampingi X sampai día bisa bersekolah lagi dengan membantu menyelesaikan administrasi di sekolah lamanya, mencarikan info sekolah baru, hingga membantu mendaftarkan si X ke sekolah baru.

Terlihat cukup susah, menurut saya, terutama karena ini masa pandemi dimana you have to do it online  the whole process dan orang tua X memiliki akses terbatas ke gawai termasuk kurang paham hal-hal berbau online selain chat.

Tugas pertama diawali dengan menghubungi orang tuanya menanyakan background, dan setelah mendapat penjelasan kenapa X putus sekolah saya merasa. sedih. Maksud saya, ternyata cerita-cerita sinetron dengan konflik berat itu benar adanya. Kemiskinan, konflik keluarga, bahkan kurangnya informasi tentang program bantuan untuk anak putus sekolah, semua menjadi sebagian faktor kenapa X putus sekolah.

Setelah mendengar semuanya saya menjadi paham, kenapa menikah dan memiliki anak itu bukan sesuatu yang gampang dan harus dipersiapkan dengan matang. Karena jika tanpa persiapan matang, anak yang akan terkena dampaknya. Well, saya bisa bilang bahwa X telah terkena “dampak” konflik orang tua nya di usianya yang masih 10 tahun, terutama saat saya melihat X adalah anak yang rajin dan dia ingin sekali sekolah. I am pretty sure this was really heartbreaking for her.

Tugas selanjutnya adalah mengurus dokumen-dokumen untuk proses mutasi (rapot, surat keterangan mutasi, dan lain lain) dari sekolah lamanya yang ternyata lama tertahan karena kendala biaya. Saya kira itu akan sesimpel ini : I just need to call her former school, ask for the documents, pay the school fee debtWell, ternyata tidak semudah itu karena untuk mencari kontak sekolah lamanya pun cukup susah, lalu menghubungi kepala sekolah disana juga bukan hal mudah, apalagi “memaksa” mereka untuk mencarikan dokumen untuk anak didiknya yang sudah 2 tahun lalu putus sekolah. Tapi, dengan bantuan dari kakak-kakak di Project Menuntut Ilmu, saya berhasil mendapatkan semua dokumen yang diperlukan untuk pindah sekolah!

To Do List terakhir: mendaftarkan ke sekolah baru, yang sebisa mungkin sekolah negeri karena gratis. Well, easy? NO!. Waktu saya kelas 6 SD dulu, tahun 2002,  mungkin memang mendaftar sekolah negeri terlihat lebih mudah, tapi jaman sekarang di saat jumlah kelahiran di Indonesia meningkat setiap tahunnya, adanya program zonasi (sehingga tidak bisa asal memilih sekolah), kebijakan independent sekolah khusus untuk case mutasi, dan saya berada di kota terpadat di Indonesia. Ditambah lagi shifting dari offline process ke digital bukanlah hal mudah. Saya harus tau website apa saja untuk mendaftar sekolah negeri, apa saja step nya, juga selalu update info kepada orang tua X sekaligus membantu submit document, dan ikut menghubungi guru di sekolah barunya jika perlu.

Singkat cerita, saya gagal. Dokumen dari sekolah lama datang terlambat (walaupun sudah saya follow up jauh-jauh hari) tepat saat batas waktu pendaftaran sekolah negeri terdekat dari rumah X, sehingga saya terlambat submit dokumen. Alternatif lain adalah mencari sekolah swasta yang murah dan berada di dekat daerah Senen (karena jika terlalu jauh akan menambah regular cost uang transportasi yang tentu saja akan memberatkan orang tua X karena mereka tidak memiliki kendaraan). Dan Thank God, berhasil. Akhirnya X diterima sekolah swasta di dekat Senen yang biayanya amat sangat terjangkau dan tidak memberatkan.

Sebuah perasaan “aneh” datang waktu Ibu dari X mengirimi saya pesan WA “Terimakasih ya mbak, akhirnya X bisa sekolah lagi, ini mimpi kami  sejak lama. Dan akhirnya anak saya gak di remehin orang. Terimakasih RBS”, sembari mengirim foto seragam si X yang sedang semangat mengikuti pembelajaran daring.

YOU KNOW rasanya kan… mungkin lebih terharu daripada kalau tiba tiba ada idola artis K-pop yang mengajak saya candlelight dinner :p . Seorang anak bisa sekolah lagi berkat Rumah Belajar Senen melalui saya! Disitu saya benar-benar yakin The Power of Humanity.

Andai RBS tidak pernah didirikan, andai Project Menuntut Ilmu tidak pernah ada. X akan masih duduk di rumah dan hanya bisa menatap anak-anak lain yang bisa pergi ke sekolah. Umur X akan semakin bertambah dan kendala untuk bisa sekolah lagi akan semakin besar (belum lagi kondisi mental anak-anak yang putus sekolah). Moreover, Pendidikan Dasar adalah kunci anak bisa melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya yang tentu saja bisa sangat menentukan masa depan mereka.. So, through this writing, I would like to say thank you RBS!

NEW POV (Point of View) yang saya dapat : Saya jadi aware bahwa anak putus sekolah adalah suatu “dampak” dari situasi yang kompleks. Kita tidak pernah bisa 100% menyalahkan orang tua, keluarganya atau bahkan lingkungannya, karena pada dasarnya background masing masing anak putus sekolah pun berbeda-beda. Isu putus sekolah adalah isu sosial yang harus dipikirkan bersama-sama. Dimulai dari memikirkan bagaimana meningkatkan awareness di kalangan marginal bahwa pendidikan sangat penting, lalu reduce education cost dan menambah banyak program bantuan/beasiswa agar semua anak dari kalangan marginal bisa mencapai akses ke Pendidikan Wajib Belajar 12 tahun hingga higher education (kuliah sarjana dan seterusnya).

Lalu, yang terpenting dalah mencari solusi praktis bagaimana cara agar informasi terupdate tentang beasiswa, dan program-program bantuan untuk anak putus sekolah dari pemerintah dan atau swasta bisa sampai ke kalangan marginal yang minim fasilitas di era digital (tidak memililiki device yang dapat digunakan untuk akses internet, hingga minim informasi cara menggunakan internet/browse informasi melalui gawai).

“You must not lose faith in humanity. Humanity is like an ocean; if a few drops of the ocean are dirty, the ocean does not become dirty.”
― Mahatma Gandhi

by Ucha, November 2021