Ketahui! Bentuk Kekerasan Verbal Yang Sering Diterima Perempuan

Jika kita membicarakan kekerasan terhadap perempuan, mungkin yang terlintas dipikiran kita adalah kekerasan fisik. Padahal, tidak hanya lewat fisik tapi ada kekerasan verbal berupa ucapan/kata-kata.

Kekerasan verbal adalah perbuatan atau kejahatan yang dilontarkan melalui kata-kata. Tujuannya adalah merusak mental korbannya sehingga si korban akan merasa tidak percaya diri, mulai mempertanyakan intelejensi, hingga merasa tidak memiliki harga diri.

Kekerasan verbal bisa terjadi pada hubungan apa pun dan intensitasnya biasanya meningkat bila tidak segera diakhiri. Jika sudah parah, kekerasan ini juga bisa berujung pada kekerasan fisik dan meninggalkan efek yang buruk bagi korbannya.

Kebanyakan berpikir kekerasan verbal hanya sebuah pembentakan, padahal dengan berbicara menggunakan nada halus hingga berbisik, yang diulang berkali-kali juga bisa membuat pembunuhan karakter seseorang.

Ini bentuk kekerasan verbal yang kerap diterima perempuan, meski mungkin tidak kita sadari.

 

  1. Bullying

Perundungan atau bullying jadi contoh pertama kekerasan verbal yang diterima perempuan. Di dunia nyata, hingga ke media sosial, perundungan kerap ditemui dan dilakukan beramai-ramai bahkan oleh dan kepada orang-orang yang tidak dikenal secara personal.

 

  1. Bentuk kedua dari kekerasan verbal yang sering dialami banyak perempuan adalah dipermalukan secara fisik. Misalnya, bentuk tubuh, berat badan, kondisi fisik termasuk wajah, kulit, dan penampilan.

Mengomentari ‘basa-basi’ seperti “ih kok jerawatan?” “Gendutan ya? Coba deh kurusin sedikit” ini juga jadi bentuk kekerasan yang sering dialami di kehidupan nyata atau lewat media sosial.

 

  1. Yang terakhir adalah bentuk kekerasan verbal berupa pelecehan seksual. Cat calling atau diberi siulan, dipanggil-panggil dengan konotasi seksual oleh orang tak dikenal di muka umum, atau diberikan komentar bernada seksual di media sosial seringkali dialami para perempuan.

Mungkin kedengarannya terkesan sepele, tetapi kita tidak tahu apa yang sudah diucapkan oleh pelaku akan berdampak besar bagi korban. Satu hal lagi yang terpenting, janganlah kita menjadi bagian dari mereka yang menormalisasi kekerasan verbal. Sudah saatnya setiap orang belajar mengekspresikan pendapat dengan cara yang baik, melakukannya dengan sehat tanpa melukai orang lain dengan kata-kata. Kekerasan verbal nyata, dan memiliki efek traumatis.

Jadi jangan jadikan perkataan yang keluar dari mulut kita menjadi sumber traumatis untuk orang lain yaaa Hapeeps!