Mengapa Bisa Menjadi Tren?

Pernahkah YOTers berpikir mengapa sesuatu bisa menjadi tren? Orang-orang selalu berbondong mencoba sesuatu yang jadi tren agar tetap merasa up to date.

 

Semua ini dapat dijelaskan dengan teori Diffusion of Innovation yang dikembangin oleh E.M. Rogers pada 1962. Teori ini menjelaskan proses sebuah ide atau produk mendapatkan momentum dan menyebar di tengah masyarakat seiring berjalannya waktu. Alhasil, karena difusi ini, orang sebagai bagian dari sistem sosial mengadopsi ide baru, perilaku, atau produk.
 

Teori ini dibagi jadi lima tahapan yang diwakili oleh aktor-aktor yang terlibat dalam tiap proses difusi.

 

1. Para Pendahulu (The Innovators)

Inovator adalah mereka yang berkenan mencoba sebuah ide, perilaku atau produk yang baru. Inovator bertanggung jawab dalam menciptakan suatu gerakan baru yang cukup asing secara budaya. 
 

2. Para Pengikut Awal (The Early Adopters)
Para pengikut awal ini bisa dibilang merupakan trendsetter yang punya kekuatan jaringan (networking) disertai jaringan media sosial yang solid. Merekalah yang menyebarkan tren baru itu dari mulut ke mulut atau lewat media sosial dengan kekuatan jaringan yang mereka punya. 

 

3. Para Pengikut Gelombang Pertama (The Early Majority)
Media massa mulai menyoroti produk yang sedang naik daun. Pada tahap ini, produk belum menjadi tren, akan tetapi sudah ada potensi besar.

 

4. Para Pengikut Mayoritas (The Late Majority)
Orang-orang pada kategori ini biasanya skeptis dengan tren baru. Mereka cukup konservatif dalam menyikapi hal-hal baru yang berkembang dalam masyarakat.

 

5. Anti-Tren (The Laggards)
Terakhir dan yang paling lamban menerima sebuah tren. Kelompok ini sedikit pun tidak akan berpikir mencoba tren-tren kekinian karena memang mereka kurang tertarik. 

 

Kalau YOTers, masuk ke golongan yang mana?

Sumber thumbnail: Shutterstock