People Pleaser: Dampak Negatif Menjadi Orang yang Terlalu Baik

People pleaser juga dikenal dengan istilah gaulnya “orang tidak enakan” atau “orang yang terlalu baik”. Menjadi baik pada orang lain itu perlu, namun jangan keterlaluan sampai mengorbankan diri sendiri.

 

Apa yang dirasakan people pleaser?

Para people pleaser menganggap bahwa mereka bertanggung jawab terhadap kebahagiaan orang lain.

Mereka merasa sedih dan kecewa pada diri sendiri jika orang lain mengalami hal yang kurang menyenangkan, padahal ia tidak menyebabkan keadaan tersebut. Bahkan jika ia terlibat sekalipun, people pleaser merasa sulit memaafkan diri sendiri.

 

Bagaimana seseorang menjadi terlalu baik?

Orang yang terlalu baik tidak mengenal batasan sampai mana kebaikan mereka harus diberikan pada orang lain. Para people pleaser merasa kesulitan mengutarakan apa yang mereka inginkan dan butuhkan, karena merasa khawatir jika orang lain menjadi terbebani.

 

Dampak negatif menjadi orang terlalu baik

1. Mengabaikan kebutuhan dan keinginan pribadi

Seorang people pleaser menggunakan sebagian besar perhatian untuk orang lain. Terkadang orang yang terlalu baik juga merasa tidak “deserved” menerima kebaikan atau perhatian orang lain.

 

People pleaser bisa dilihat pada situasi sehari-hari mahasiswa, seperti mengerjakan tugas kelompok sendirian karena tidak ingin memberatkan teman kelompok yang sedang sibuk menjadi panitia event, atau merasa tidak enak jika menghapus nama teman dari laporan meskipun teman tersebut tidak membantu mengerjakan.

 

Pada akhirnya seorang people pleaser merasa terluka sendirian dan orang lain seakan tidak peduli dengan pengorbanan yang telah dilakukan.

 

2. Dimanfaatkan oleh orang lain

Bahkan oleh teman terdekat sekalipun. Orang yang terlalu baik pada akhirnya dimanfaatkan orang lain yang menganggap kebaikan mereka secara cuma-cuma.

Orang lain pada akhirnya menarget para people pleaser karena mereka tahu bahwa orang yang terlalu baik tersebut sulit berkata “tidak”.

 

People pleaser bisa diminimalisasi dengan tegas mempertahankan personal boundary atau batasan, agar orang lain tidak seenaknya. Orang yang tidak enakan perlu tegas berkata tidak jika mereka tidak nyaman dengan suatu hal.

 

Hal ini membutuhkan keberanian dan proses untuk bisa berhasil, lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali dan terus stuck menjadi orang terlalu baik yang dimanfaatkan secara eksploitatif.

 


Sumber Thumbnail: Bobbi Banks