Kesehatan Mental: Apa Itu Menyembuhkan Inner Child?

Inner child dapat dimengerti sebagai sisi kekanak-kanakan yang masih tertinggal dan terbawa seseorang hingga tumbuh dewasa. Narasi tentang menyembuhkan inner child kembali dibicarakan seiring pemahaman orang yang meningkat tentang urgensi kesehatan mental.

 

Seseorang yang masih menyimpan inner child akan merasakan bahwa di dalam dirinya ada bagian yang tidak bertumbuh meski ia sudah dewasa.

 

Apakah memiliki inner child adalah hal yang salah?

Menyimpan inner child adalah hal yang wajar, setiap orang memiliki sisi inner child masing-masing. Hal yang membedakan inner child antara satu orang dengan lainnya adalah bagaimana seseorang mengakui, menyimpan, atau membiarkan inner child.

 

Sebagian orang merasa bahwa inner child mereka dipenuhi trauma sehingga saat dewasa pun ada luka yang masih terbawa. Oleh karena itu diperlukan tindakan untuk menyembuhkan inner child tersebut.

 

Sebab di balik inner child yang terluka

Beberapa sebab mengapa inner child seseorang terluka diantaranya trauma masa kecil akibat perundungan, masalah keluarga, sakit parah, kekerasan, atau pengalaman menghadapi bencana alam yang mengharuskan seseorang kehilangan keluarga atau tempat tinggal.

 

Intinya, ada banyak faktor yang memengaruhi inner child dan setiap orang memiliki kondisi masing-masing yang perlu dihargai.

 

Menyembuhkan inner child

Ketika seseorang memutuskan untuk menyembuhkan inner child, artinya ia berusaha menerima inner child tersebut dengan tulus sebagai bagian dari dirinya dan membentuk diri seseorang hingga ia sekarang.

 

Menurut Forbes, menyembuhkan inner child dapat dilakukan dengan be present, menerima inner child dengan kasih sayang. Hindari untuk melakukan self-judgment agar tidak menambah luka.

Dibanding melakukan self-judgment, beri kesempatan pada diri sendiri untuk mendengarkan dan mengamati apa yang sebenarnya terjadi pada inner child seseorang.

 

Lebih lanjut menurut Forbes, inner child seseorang dapat merasa tertekan karena seseorang terlalu takut untuk jujur pada diri sendiri dan rasa cemas untuk membuka diri.

 

Meski demikian, seseorang perlu mengekspresikan rasa khawatir tersebut dan mengakui bahwa inner child memang ada dan tersimpan dalam diri, sehingga perlu disikapi dengan bijak.

 


Sumber Thumbnail: Francesco Ciccolella