Victim Blaming: Sebuah Perilaku Toxic Menyalahkan Korban

Victim blaming adalah situasi ketika korban dalam suatu kejadian atau tindak kriminal dianggap bertanggung jawab terhadap hal yang ia alami. Korban dianggap “pantas” mengalami kejadian buruk tersebut akibat tindakannya sendiri.

 

Victim blaming adalah perilaku yang toxic dan menyudutkan korban. Situasi yang dapat menggambarkan victim blaming misalnya pelecehan seksual, dimana pakaian atau tindakan korban dianggap memicu pelaku.

 

Mengapa ada kecenderungan menyalahkan korban?

Menurut tulisan Verywell Mind, kecenderungan untuk melakukan victim blaming berasal dari pemikiran bahwa dunia ini adil. Ketika terjadi hal buruk pada seseorang, ada pemikiran bahwa mereka mengalami hal tersebut karena tindakan mereka sendiri.

Orang-orang meyakini ada semacam “karma” atau “ada aksi ada reaksi”, dimana suatu tindakan akan memengaruhi hal lain.

 

Mengapa seseorang perlu berhenti melakukan victim blaming?

Hal buruk akan selalu terjadi pada setiap orang pada waktu tertentu selama kehidupan mereka, baik disadari atau tidak. Sama halnya dengan korban, mereka sedang berada pada titik tersebut dalam kehidupan mereka.

 

Dibanding menyalahkan korban dan mempertanyakan apa hal buruk yang sudah mereka lakukan hingga menyebabkan suatu kesialan, coba berikan empati dan memikirkan bagaimana bila diri sendiri berada pada situasi tersebut.

 

Apa yang harus dilakukan sebagai pengganti victim blaming?

Berikan dukungan pada korban daripada menyalahkan mereka. Korban mungkin merasa terpukul atau shock ketika mengalami kejadian buruk.

Berikan kesempatan kepada korban untuk mengutarakan perasaan atau kondisi mereka daripada melakukan judgment.

 

Hindari menyetujui tindakan pelaku apapun alasan mereka. Menyakiti orang lain adalah tindakan yang tidak dapat dibenarkan.Jangan biarkan pelaku, buat mereka bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan.

 

Seorang pelaku kecelakaan tidak bisa berlindung di balik kondisi mabuk dan serta merta menyalahkan korban yang sedang menyeberang jalan.

Korban sudah melakukan langkah preventif dengan menyeberang di zebra cross dan menyalakan lampu penyeberangan.

Jadi, siapa yang harus disalahkan? Tentu saja pelaku yang menyetir dalam keadaan tidak sadar sepenuhnya.

 


Sumber Thumbnail: Vector Stock