Yuk Hindari Sikap Judgemental dengan Tiga Langkah ini

Judgement akan menjadi kian nyata di pikiran kita dengan dialiri hawa nafsu dan emosi negatif. Yep, sometimes it’s hard to believe that our minds can think and judge that far. Memelihara sikap judgemental  bikin hidup frustrasi, dan tentunya jauh dari nyaman. Percaya deh, saat kita mampu melihat sesuatu apa adanya tanpa ditunggangi emosi negatif, perasaan jadi lebih ringan dan tak terbebani.

 

Sebelum sikap ini jadi kebiasaan yang melekat di diri kita, yuk hindari sikap judgemental dengan tiga langkah ini:

1. Lebih cintai diri

Kedengarannya sederhana, bahkan remeh. Banyak juga yang merasa sudah melakukan ini. Padahal, dengan masih sering membandingkan diri dengan orang lain, menuntut dan men-judge diri, itu merupakan cerminan betapa kita gemar menekan diri kita sendiri. Saat kita sering menekan diri, kita pun melakukan hal yang sama kepada orang lain. Semakin kita bersikap judgemental ke dalam, bukannya berdialog, maka kita juga akan begitu ke luar. Jadi, pertama-tama, mulai dengan lebih mencintai dan menghargai sosok kita sendiri.

 

2. Hidup sadar (mindful)

Begitu judgement terhadap seseorang terformulasi di kepala, hentikan proses itu. Apabila ini sulit dilakukan karena kita sendiri sulit untuk fokus (dalam bersikap tidak judgemental), alihkan pikiran kita ke hal lain, ke topik yang menyenangkan. Proses untuk be more mindful ini membuat saya mampu memegang kendali pikiran saya dengan lebih baik lagi; saya jadi fokus terhadap apa yang terjadi di sekitar saya, termasuk kondisi orang-orangnya, sehingga tidak seenaknya  men-judge,”Ibunya Aksan cerewet banget. Pantas Aksan gerah pas dikasih tahu ini-itu di depan teman-temannya” pada ibu dari teman anak saya yang sejak tadi tidak berhenti berbicara.

 

3. Menerima bahwa tiap orang berbeda

Setelah kita mampu melakukan tiga hal di atas, berarti pikiran kita sudah terbuka dan mampu menerima kenyataan bahwa tiap orang berbeda dan memiliki keunikan karakter, cara pandang, serta kisah hidup masing-masing. Dengan menerima kondisi tersebut, kita tidak akan merasa terganggu dan tergelitik untuk men-judge saat berpapasan dengan teman yang sedang menjemput anaknya di sekolah dengan gaya “wah”—cocktail dress dan makeup tebal—sedangkan kita hanya memakai jeans dan kaos. Dengan cepat pikiran kita akan menyediakan jawaban, mungkin ada acara formal yang harus dihadirinya setelah ini. Saya jadi teringat salah satu perdebatan—contsructive argument—dengan suami saat melakukan sesuatu yang tidak tepat, tidak fair, dan ia mengingatkan dengan perkataan ini: “If it was the right thing to do, you would feel better right now.” Dan pada kenyataannya, saya memang nggak pernah merasa lebih enak setelah men-judge seseorang.

 

Sumber Thumbnail: SUARA USU