Masalah yang Paling Umum Dihadapi Remaja

Remaja adalah masa yang sensitif, dimana seseorang mengalami transisi dari kanak-kanak menjadi dewasa. Seiring perkembangan teknologi, masalah yang dihadapi remaja masa kini kian beragam dibanding zaman dahulu.

 

Tumbuh dewasa bukan semudah membalikkan telapak tangan. Masalah hidup menjadi semakin kompleks seiring bertambahnya usia. Bagi remaja yang melepas masa kanak-kanak, menghadapi masalah pun bisa menjadi “masalah”.

 

E. E. Cummings mengatakan “tumbuh dewasa membutuhkan keberanian dan menjadi siapa dirimu sebenarnya”.

 

Masalah yang paling umum dihadapi remaja

 

1. Depresi

Menurut buku Understanding Teenage Depression, persentase depresi ternyata lebih tinggi pada usia remaja dibanding paruh baya atau orang tua. Selain itu, remaja putri punya kecenderungan mengalami depresi dibanding remaja putra.

 

Ada banyak faktor di balik depresi. Munculnya peer pressure, merasa tertekan akibat nilai yang buruk, konflik pertemanan, dan berbagai situasi buruk lainnya bisa berkumpul dan menjadi pemicu.

 

2. Kehamilan di usia remaja (teenage pregnancy)

Berdasarkan Indian Journal of Forensic Medicine & Toxicology, angka kehamilan remaja di Indonesia mencapai 58,56% dan setiap tahun ada peningkatan jumlah. Masalah ini menjadikan remaja harus waspada dalam pergaulan.

 

3. Masalah akademik

Menurut Verywell Family, masalah akademik bukan hanya tentang remaja bermasalah di sekolah, namun remaja pada umumnya juga merasakan tekanan yang besar dalam urusan pendidikan.

Tekanan datang dari keinginan masuk perguruan tinggi yang terbaik yang menyebabkan remaja merasa burnout bahkan sebelum lulus SMA.

 

4. Media sosial

Mengakses media sosial dapat menjadi sarana remaja menemukan teman baru. Namun di balik manfaat media sosial, ada masalah berupa cyberbullying, berita palsu, dan berbagai konten kurang pantas yang berpotensi diakses remaja.

 

5. Peer pressure

Masalah ini hadir dari tekanan yang timbul dari pengaruh teman sebaya.

Melihat teman yang memiliki benda A, mencapai hal B, atau melakukan hal C bisa menyebabkan remaja merasa iri dan tergerak untuk menyamai teman agar mengikuti tren. Padahal tren tersebut belum tentu positif.

 


Sumber Thumbnail: Getty Images