Masalah di Awal Pernikahan

Sebagian orang berpendapat jika tahun pertama hingga memasuki tahun kelima pernikahan merupakan saat-saat yang genting. Di mana pada masa itu pasangan suami istri tengah saling menyesuaikan diri. Maka wajar saja jika di awal pernikahan seperti itu, muncul banyak konflik dan masalah yang boleh dibilang sebagai ujian yang harusnya bisa dihadapi bersama.

 

Cermati dan baca bareng pasanganmu, ya. Supaya kalian lebih siap menghadapi ujian di awal pernikahan nanti.

1.Keuangan yang belum stabil sementara beban ekonomi bertambah tak jarang membuat pasutri adu mulut setiap hari

Bersyukurlah jika kalian sama-sama sudah aman secara finansial jauh sebelum menikah. Sebab ketika sudah tinggal satu atap, persoalan ekonomi gak akan menjadi masalah yang memicu perdebatan setiap harinya. Lain cerita jika kamu dan pasangan baru sama-sama merintis dari nol setelah menikah. Kebutuhan pokok dan biaya operasional rumah yang kian membengkak bisa membuat kalian adu mulut setiap saat.

 

Meskipun masalah ekonomi terbilang sensitif, tapi kamu dan pasangan sebaiknya bisa mengontrol diri, ya. Paling penting, kalian harus tahu porsi dan posisi. Sebagai suami kamu punya kewajiban untuk memenuhi segala kebutuhan kalian. Sementara istrimu juga wajib teliti dalam mengelola keuangan. Jika kalian bisa bekerja sama sebagai teamwork yang solid, niscaya persoalan ekonomi gak akan terasa berat untuk dihadapi.

 

2. Kebiasaan pasangan yang baru saja terbongkar setelah tinggal satu atap, acap kali menimbulkan perasaan kesal dan ingin protes terus

Semenjak pacaran hingga menjelang hari pernikahan, kamu masih menganggap kekasihmu sebagai orang yang nyaris sempurna. Bisa dibilang dia jarang marah, rajin, pengertian dan selalu penuh perhatian. Wajar, jika kamu gak mikir dua kali ketika diajak naik ke pelaminan olehnya. Akan tetapi, begitu kalian sudah tinggal satu atap, sifat aslinya mulai kentara.

 

Kamu baru sadar jika suamimu ternyata temperamental. Salah sedikit saja dia bisa mengamuk seharian, bahkan gak segan-segan main tangan. Dia juga bukan orang yang rajin apalagi pengertian kepada istri. Kamu melihat suamimu sering malas-malasan bekerja dan gak pernah memuji penampilanmu seperti dulu lagi. Alhasil rasa kecewa ini membuatmu ingin meluapkan emosi dan mengajukan protes kepadanya.

 

3. Mertua yang terlalu ikut campur urusan rumah tangga juga bisa berpotensi menyebabkan kegaduhan

Tak jarang peran orangtua yang terlalu jauh di kehidupan rumah tangga anaknya, juga bisa jadi penyebab perselisihan di antara suami dan istri. Mungkin maksud mereka baik, sekedar ingin membantu dan memberikan contoh. Akan tetapi sudah bukan porsinya lagi buat orangtua ikut campur dalam urusan pribadi anaknya.

 

Ini nih yang bikin menantu dan mertua sulit akur. Menantu merasa kerja kerasnya tidak dihargai oleh mertua sendiri. Di sisi lain, seorang mertua hanya ingin memberikan teladan pada menantunya karena merasa lebih paham dan berpengalaman. Kalau sudah begini, suami atau istri harus bisa jadi penengah antara orangtua dan pasangannya. Kalau tidak, jangan harap deh rumah tanggamu akan terasa damai.

 

Sumber Thumbnail: VOI