Ketersinggungan Dan Mentalitas Baja

Semenjak kenal dengan adanya gerakan mental health banyak anak muda yang mudah tersinggung dan merasa menjadi korban. Karena ia beralasan dengan dasar tersebut. Dikit-dikit toxic, tersinggung, lapor, bahkan ada yang menrasa ia sebagai korban padahal secara sadar bahwa tersinggung itu tidak bisa lepas dari hidup. Nyatanya tidak ada sedikitpun yang bebas dari ketersinggungan

 

Saat ini semenjak adanya kebiasaan yang dianggap sebagai pembenaran mereka, kata-kata toxic dan menjaga mental health menjadi pelindung diri sehinggga hal tersebut menjadikan dirinya terbatas ruang geraknya sehingga tidak dapat mengeksplore diri dan tidak bisa kreatif selayaknya anak muda zaman sekarang.

 

Selain itu mentak lainnya adalah ketika bekerja, dalam pekerjaan dituntut untuk perfect, ketika tidak bisa melakukannya dan memiliki masalah dengan rekan kerja maka mereka-mereka dianggap toxic, padahal bisa jadi diri kita yang kurang maksimal mengeksplore diri

 

Selanjutnya, dalam bersosial media ketika menguplaod sesuatu dan mendapatkan komentar yang negative maka ia beranggapan mereka jahat. Padahal secara umum memang media sosial bebas untuk apa aja, bisa menilai orang suka atau tidak suka dengan mudah, jika terjadi hal semacam ini sebaiknya biarkan saja

 

Sejatinya secara berpikir sehat, hal-hal tersebut tidak bisa menahan atau menghentikan apa yang orang lain lakukan kepada kita. Tetapi kita dapat memperbaiki diri menjadi seseorang yang jauh lebih baik lagi. Terkadang orang lain mengkritik kita dengan sebab yang jelas, terutama anak muda jaman sekarang yang notabene diisi oleh generasi milenial dan generasi Z. kunci lainnya adalah kita biarkan saja tetapi diri kita focus terhadap apa yang sedang kita jalani sehingga kita focus memperbaiki diri bukan mengomentari orang lain

 

Thumbnail: freepik.co