2 Falsafah Hidup Orang Bone

Sejak kecil masyarakat Bone sudah diajarkan untuk menjadi pribadi yang bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Kearifan lokal ini sendiri disebut sebagai Pangngadereng.

 

Berikut saya akan membahas 2 filosofi hidup dari masyarakat Bone ini. Apa saja? Yuk, kita bahas!

 

1. Menjunjung sikap sosial dan empati

Terdapat dua nilai yang menggambarkan filosofi hidup ini yaitu sicarinnayyang waramparang angkana sitinajae dan sianrasa-rasang na siamase masei. Nah, untuk sicarinnayyang waramparang angkana sitinajae adalah sebutan untuk sifat sosial pemurah. Dimana masyarakat Bone diajarkan untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri tetapi juga harus memikirkan orang-orang terdekat mereka yang membutuhkan bantuannya.

 

Sedangkan untuk sianrasa-rasang na siamase masei adalah untuk rasa empati yang dimiliki oleh masyarakat Bone terhadap sesamanya. Sehingga ketika salah satu masyarakat di Bone mengalami suatu masalah maka masyarakat lainnya akan merasakan senasib dan seperjuangan terhadap orang tersebut.

 

Mereka diajarkan untuk dapat merasakan apa yang orang lain rasakan dan berusaha untuk bersama-sama menyelesaikan hal tersebut. Tidak hanya itu, ada nilai sipakario-rio yang menunjukkan bahwa masyarakat Bone harus menjalani suka duka bersama-sama.

 

2. Saling mengingatkan

Di dalam masyarakat Bone terdapat nilai yang disebut sipakainge’ ri gau medecengnge. Di mana mereka akan mengingatkan mengenai suatu hal sehingga terhindar dari hal-hal buruk. Hal ini membuat keluarga, saudara, dan teman tidak akan pernah merasakan sendirian.

 

Lalu, terdapat juga sebutan "malebbi" dimana hal ini muncul ketika seseorang diperingatkan untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak baik, sehingga mereka akan merasa malu jika melakukan hal-hal yang tidak baik tersebut. Inilah mengapa perempuan-perempuan Bone berperilaku lemah lembut dalam membawakan diri mereka.