Menghadapi Quarter Life Crisis dan Pertanyaan “Template” Saat Lebaran

Quarter life crisis merupakan periode kritis bagi anak muda. Sementara itu, lebaran adalah momen yang menguji mental anak muda yang tengah dilanda quarter life crisis. Penyebabnya tidak lain adalah pertanyaan template dari sanak saudara.

 

Momen lebaran mempertemukan keluarga yang lama tidak berjumpa. Obrolan biasanya dimulai dengan pertanyaan tentang kabar. Selanjutnya? Coba cermati beberapa pertanyaan di bawah ini, apakah terasa familiar?

 

Semester berapa kamu? Kapan lulus? Kapan wisuda? Kapan menikah? Kapan lanjut S2? Kapan bekerja? Sudah bekerja dimana? Di perusahaan X ada lowongan, mengapa tidak daftar? Kamu mau bekerja di luar kota atau menemani orangtua?

 

Berbagai pertanyaan di atas sering terdengar ketika bertemu dengan keluarga atau kenalan yang telah lama tidak berjumpa. Namun di balik pertanyaan yang bisa saja ditujukan untuk basa-basi ini, ada jiwa anak muda dengan quarter life crisis yang merasa tertekan.

 

Pada masa quarter life crisis, tekanan dan tuntutan yang besar dari lingkungan sosial menyebabkan seseorang kehilangan arah, merasa insecure, juga sendirian.

 

Saat ditodong dengan berbagai pertanyaan di atas, anak muda yang mengalami quarter life crisis merasa tidak mampu menjawabnya dengan benar. Alasannya? Karena anak muda sendiri sedang dalam proses menemukan jawaban tersebut bagi diri mereka sendiri.

 

Quarter life crisis adalah fenomena yang wajar dialami anak muda yang sedang mengalami fase transisi menuju usia dewasa dimana seluruh tanggung jawab diletakkan pada pundak masing-masing.

 

Menghadapi pertanyaan template saat lebaran di tengah quarter life crisis bukanlah hal yang gampang. Rasa khawatir akan di-judge, takut jika mengecewakan atau mempermalukan orangtua karena belum mencapai suatu fase, dan berbagai kekhawatiran lain berkecamuk di dalam kepala.

 

Dampaknya, anak muda ingin menarik diri dari interaksi yang terjadi selama lebaran demi menghindari pertanyaan template di atas. Belum lagi bila mereka bertemu dengan saudara seumuran yang telah mencapai berbagai hal.

 

Finally, sadari bahwa setiap orang memiliki alur hidup masing-masing. Those questions don’t define you.

 


Sumber Thumbnail: Shutterstock