Belajar dari Negara Produktif: Luksemburg dan Norwegia

Produktif artinya dapat menghasilkan jumlah yang besar. Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) mendefinisikan produktivitas sebagai perbandingan antara jumlah hasil dengan jumlah masukan.

Ini artinya negara yang produktif dapat menggunakan sumber daya seperti pekerja dan modal secara efektif untuk menghasilkan jumlah optimal.

 

Produktivitas menurut OECD, diukur dengan membagi GDP dengan jumlah jam kerja, jam kerja ini termasuk kerja full time dan part time.

 

Berdasarkan laporan OECD, Luksemburg dan Norwegia termasuk negara paling produktif. Karakter apa sajakah yang bisa dijadikan pelajaran?

 

1. Luksemburg

Negara yang terletak di Eropa Barat ini merupakan negara paling produktif kedua. Penghitungan GDP per jam kerja pada tahun 2020 menghasilkan angka 100,9 USD.

 

Menurut sekjen OECD Angel Gurria, Luksemburg memiliki kesenjangan gender yang rendah di antara negara anggota OECD lainnya.

Dilansir International Labour Organization, menurunkan kesenjangan gender dalam dunia kerja dapat meningkatkan GDP secara global. Jika GDP meningkat, artinya produktivitas juga dapat meningkat. Dari Luksemburg kita dapat belajar bahwa kesenjangan gender perlu diatasi.

 

2. Norwegia

Lagi-lagi di kawasan Eropa Barat, angka 83,2 USD per jam menjadikan Norwegia negara paling produktif ketiga versi OECD tahun 2020.

 

Dilansir Norwegian Ministry of Finance, pendidikan adalah hal yang amat penting bagi kesempatan individu dalam pasar kerja.

Pasar pekerja di Norwegia bersifat skill-intensive dan populasi Norwegia memiliki tingkat pendidikan yang tinggi. Populasi berusia di atas 25 tahun memiliki keterampilan membaca, berhitung, dan TIK yang kuat.

 

Perhatian pada pendidikan dan peningkatan kompetensi skill adalah pelajaran yang bisa diambil dari Norwegia.

Jika populasi suatu negara memiliki tingkat pendidikan dan penguasaan skill yang mumpuni, maka semakin banyak dari mereka yang terserap ke dalam dunia kerja. Implikasinya, pendapatan bertambah demikian pula dengan produktivitas.

Selain itu, demi menjadi negara produktif, perhatian pada keterampilan di bidang teknologi informasi dan komunikasi juga perlu ditingkatkan. Seiring waktu, segalanya menjadi serba digital dan skill TIK tidak bisa dilewatkan.

 


Sumber Thumbnail: Upskilling Shipbuilding Workforce in Europe