Waspada Boros: Bahaya dan Cara Mencegah Konsumerisme

Konsumerisme adalah pandangan dan lifestyle seseorang yang menganggap bahwa kemewahan adalah tolok ukur kebahagiaan dan kesuksesan. Selain itu konsumerisme juga bisa dipahami sebagai perilaku boros.

 

Iklan yang menarik dan promo besar-besaran pada peringatan hari tertentu dapat memicu seseorang menjadi boros. Rasanya disayangkan jika melewatkan suatu promo, padahal barang tersebut tidak benar-benar dibutuhkan.

 

Bahaya konsumerisme

Pembelian secara boros dapat mengganggu kondisi keuangan. Ketika pemakaian uang tidak terkontrol, bisa jadi rencana keuangan yang sudah disusun akan rusak—itu pun jika seseorang membuatnya. Bagaimana jika tidak ada rencana? Tentu stabilitas keuangan kian memburuk.

 

Saat keuangan tidak aman, akan muncul masalah lanjutan misalnya pertengkaran dengan pasangan, keluarga, kebutuhan yang tidak terpenuhi, hutang, dan sebagainya.

 

Selain itu gaya hidup konsumerisme menjadikan seseorang menganggap segala sesuatu berputar pada uang atau materi. Kesuksesan selalu dinilai dari kepemilikan materi dan kurang menghargai hal di luar itu.

 

Cara mencegah konsumerisme

1. Berhenti meniru orang lain

Jika barang-barang branded milik orang lain dan kehidupan mewah yang dijalani nampak menggiurkan, biarlah. Itu adalah kehidupan mereka, tidak perlu bersusah payah meniru mereka hingga mengorbankan kebutuhan yang urgent demi memenuhi gaya hidup.

Fokus pada kehidupan diri sendiri dan sesuaikan gaya hidup dengan kemampuan.

 

2. Kendalikan diri terhadap godaan belanja

Saat menjumpai diskon, coba pikirkan apakah barang yang didiskon benar-benar dibutuhkan, sekecil atau sesederhana apapun barang tersebut.

 

3. Gemar berbagi

Menjadi pribadi yang gemar berbagi akan menjadikan seseorang bersyukur dengan kehidupan yang ia jalani dan apa yang ia miliki. Saat seseorang merasa bersyukur, dorongan untuk konsumerisme menjadi menurun.

 

Konsumerisme mengajarkan bahwa materi adalah penentu kebahagiaan dan kesuksesan. Namun sebagaimana ungkapan yang telah sering didengar, uang tidak selamanya bisa membeli kebahagiaan. Uang mungkin bisa “membeli” relasi, namun tidak dengan ketulusan di dalamnya.

 


Sumber Thumbnail: Vecteezy