Dampak Negatif Impulsive Buying alias Kalap Belanja

Impulsive buying adalah kecenderungan untuk belanja barang atau jasa secara impulsif atau tanpa perencanaan terlebih dahulu.

Dijelaskan Psychology Today, tindakan impulsive buying ini cenderung didasari alasan meningkatkan citra diri atau status sosial. Para pelaku impulsive buying ingin dipandang baik oleh orang lain dengan barang yang dimiliki.

 

Ciri lain dari mereka yang melakukan impulsive buying adalah rasa enggan untuk mempertimbangkan konsekuensi dari pembelian yang dilakukan. Tendensi lain dari pelaku impulsive buying adalah kesulitan mengelola emosi, sehingga mereka tidak bisa menahan dorongan emosional untuk belanja.

Baca Juga: Kiat Mencegah Impulsive Buying 

 

Salah satu praktik impulsive buying paling sederhana yang tidak disadari adalah mengambil jajanan tambahan yang dipajang di sekitar kasir. Sebenarnya jajanan tersebut tidak benar-benar dibutuhkan, namun ada saja dorongan yang muncul untuk memasukkannya ke dalam keranjang belanja.

 

Oops, tahan diri sebelum membeli dan ketahui dampak negatif dari impulsive buying ini.

 

Dampak negatif impulsive buying

Belanja tanpa pertimbangan dan rencana ini memiliki beberapa dampak negatif, diantaranya adalah:

  1. Overspending atau pengeluaran yang terlalu besar

Akibat tidak direncanakan, impulsive buying dapat berakhir pada situasi overspending. Perasaan senang saat belanja, keinginan untuk flexing, atau alasan apapun yang menyebabkan seseorang belanja tanpa pertimbangan dapat mengacaukan rencana keuangan.

 

  1. Kondisi keuangan yang tidak stabil

Overspending ini nantinya akan berpengaruh buruk pada kondisi keuangan seseorang, terlebih pengeluaran tidak sesuai dengan kemampuan finansialnya.

 

  1. Kesulitan mengontrol diri sendiri

Saat impulsive buying dibiarkan berlanjut, seseorang akan semakin sulit mengontrol diri sendiri ketika belanja. Tidak ada “rem” yang menjadi pembatas saat belanja.

Perlu direnungkan bahwa materi, terutama uang, seharusnya menjadi hal yang dikendalikan manusia, bukan sebaliknya.

 

Kata penulis Auliq Ice, “perhatikan harga ketika sedang belanja, jangan sampai menyesal di akhir karena kamu tidak memiliki apa-apa untuk esok hari”.

 

Sumber Thumbnail: Shutterstock