Fenomena “Budak Proker” di Kalangan Mahasiswa

Sebutan “budak proker” diberikan kepada mahasiswa yang sangat disibukkan dengan proker atau program kerja di organisasi. Mereka sangat sibuk hingga terkadang lalai pada tanggung jawab akademik di kampus atau lupa merawat diri sendiri dengan memberikan waktu istirahat yang cukup.

Fenomena “budak proker” ini terjadi karena saat ini mahasiswa semakin sibuk akibat serangkaian program kerja yang kian beragam di organisasi. Sebagai contohnya, dulu program kerja seminar belum marak, sekarang hampir semua organisasi mengagendakan seminar.

 

Istilah “budak” disematkan karena para mahasiswa ini tidak mendapatkan bayaran atas kerja keras mereka melaksanakan suatu program kerja. Pada kondisi tertentu bahkan mahasiswa budak proker ini diminta menutup kekurangan dana.

Label budak proker tidak hanya diberikan oleh orang lain sebagai pengamat, namun juga diri sendiri. Ini artinya, para mahasiswa menyadari bahwa mereka sebenarnya dituntut sedemikian besar oleh program kerja.

Jika ditanya bayaran, mungkin yang didapat adalah pengalaman kepanitiaan atau organisasi. Satu manfaat lain menjadi bagian dari program kerja adalah, sertifikat dengan poin keaktifan yang bisa dikumpulkan sebagai syarat kelulusan.

 

Guna menghindari menjadi budak proker, mahasiswa perlu mempertimbangkan ada berapa program kerja yang ingin diikuti. Misalnya satu semester mengikuti dua program kerja dengan rincian, satu proker yang ringan dan satu proker besar dengan persiapan yang lebih lama.

Jika mengikuti program kerja bertujuan untuk mengembangkan soft skill, ada cara misalnya dengan program magang atau menjadi volunteer. Berikan variasi pada hari-hari kuliahmu dengan tidak memenuhi jadwal hanya dengan realisasi program kerja.

 

Jangan berbangga ketika terlalu sibuk dengan pengerjaan program kerja dan melabeli diri sendiri dengan sebutan tersebut. Aktif dalam organisasi dan kepanitiaan memang diperlukan, namun jangan sampai mengorbankan jam istirahat dan jam belajar.

 

Sumber Thumbnail: iStock