Hindari Toxic Positivity untuk Sayangi Dirimu

Toxic positivity adalah rasa optimis dan keharusan untuk bahagia secara berlebihan, dalam segala situasi. Di dalam toxic positivity, akan ada penolakan atau invalidasi terhadap beragam emosi yang bisa dirasakan manusia. Situasi toxic positivity akan membuat seseorang memaksakan diri di luar batas.

 

Mengatakan “selalu bahagia yuk!” atau kalimat sejenisnya mungkin bisa menjadi sumber semangat bagi setiap orang. Tetapi faktanya, kita tidak selalu bahagia. Ada beragam emosi yang bisa dirasakan dan hal tersebut adalah kewajaran.

 

Everything is okay!

Hmm… benarkah demikian?

 

Ada kalanya kita perlu mengakui bahwa sesuatu memang tidak baik-baik saja. Toxic positivity akan menganggap bahwa segala hal harus ditanggapi secara positif dan seakan tidak memberi ruang untuk kita merasa sedih.

 

Toxic positivity membuat seseorang akan menyembunyikan emosinya, mengabaikan perasaan yang sesungguhnya dirasakan, bahkan merasa bersalah ketika curhat kepada teman tentang perasaan buruk yang dirasakan.

Padahal menceritakan kepada orang lain perlu untuk menguraikan kegalauan atau meringankan beban. Akan tetapi dengan toxic positivity, seseorang bisa menganggap bahwa emosi yang buruk adalah kesalahan mereka sendiri dan tidak merasa pantas untuk mengeluh.

 

Menghindari toxic positivity adalah bentuk sayang kita pada diri sendiri, maupun orang di sekitar kita. Daripada membandingkan penderitaan siapa yang lebih berat dengan mengatakan: “ah cuma gitu doang, aku sih blablabla“, akan lebih baik jika ungkapan tersebut diganti dengan “pasti berat menghadapi itu semua sendirian, ada yang bisa kubantu supaya kamu merasa lebih baik?”. Kita sedang sesi curhat, bukan membandingkan penderitaan.

Tentunya kita tidak menginginkan orang lain mengecilkan masalah yang kita hadapi, karena itu jika seseorang sedang menceritakan masalahnya, dengarkan dan hargai emosi yang mereka rasakan.

 

Melakukan validasi terhadap emosi yang beragam tersebut akan membuat kita tidak malu menerima diri apa adanya. Merasa sedih, gagal, dan takut adalah bagian dari proses kita bertumbuh.

 

Sumber Thumbnail: Freepik