Apa itu Social Media Marketing (SMM)?

Seiring meningkatnya pengguna social media dan bagaimana media sosial bisa memengaruhi keinginan seseorang untuk membeli suatu produk, muncullah social media marketing atau SMM.

Social media marketing adalah penggunaan media sosial untuk tujuan marketing. Media sosial yang paling sering disorot diantaranya Instagram, Facebook, TikTok, dan Twitter.

Menurut Investopedia, social media marketing bertujuan untuk membangun brand, meningkatkan penjualan, dan meningkatkan traffic dari website. Melalui social media marketing, perusahaan atau pelaku bisnis memiliki kemudahan berinteraksi dengan konsumen dan mencari konsumen baru.

 

Mengapa social media marketing?

SMM memiliki basis data yang jelas yang bisa digunakan untuk melihat sejauh mana keberhasilan marketing. Data yang dimaksud bisa berupa jumlah followers, berapa kali sebuah iklan dilihat, jumlah orang yang melakukan klik, dan sebagainya.

Melalui data tersebut, perusahaan atau pelaku bisnis misa menganalisis tren yang ada di kalangan audiens. Perusahaan lantas bisa menyesuaikan produk atau strategi pemasaran sesuai tren agar dapat mendongkrak penjualan.

 

Investopedia menyebutkan ada tiga hal yang menjadikan social media marketing sangat menjanjikan, yakni koneksi, interaksi, dan data konsumen.

Koneksi artinya perusahaan bisa membangun koneksi dengan target audiens mereka. Sementara itu pada sisi interaksi, media sosial memberikan ruang interaksi dengan fitur komentar, menyukai, membagikan, pesan langsung, dan sebagainya.

Ketiga, perusahaan atau pelaku bisnis akan mendapatkan data konsumen yang komprehensif dari social media marketing. Pengguna bisa mengaktifkan mode “akun bisnis” untuk mendapatkan informasi tersebut.

 

Social media marketing juga bisa memanfaatkan fenomena viral untuk meningkatkan brand awareness. Pemasaran akan dijalankan dari satu pengguna ke pengguna lain dan dengan sendirinya suatu produk menjadi viral.

Dalam menjalankan SMM, perusahaan dan pelaku bisnis perlu waspada terhadap hoax. Misalnya pihak yang tidak bertanggungjawab mengedit salah satu konten promosi secara negatif atau menyebarkan review palsu. Meskipun perusahaan kredibel sekalipun, konten hoax tersebut bisa memunculkan keraguan pada calon konsumen.

 


Sumber Thumbnail: Freepik